KABUPATEN SORONG, PBD – Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menggelar sosialisasi Pertunjukan Anyaman Noken Mama-Mama Papua dan Fashion Show Baju Adat kategori Pelestarian Budaya Lokal bertempat di Universitas Nani Bili Nusantara (UNBN), Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, Selasa (3/3/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pendayagunaan Ruang Publik bidang perseorangan yang mengusung tema ‘Merajut Tradisi, Menjaga Identitas’, serta berkolaborasi dengan berbagai pihak termasuk LSM Teras Kitorang Peduli Papua.
Koordinator kegiatan, Gustrianti M. Ali menjelaskan bahwa pertunjukan ini bertujuan mengangkat kembali budaya lokal masyarakat, khususnya anyaman Noken yang menjadi identitas penting masyarakat asli Papua, terutama dari wilayah Kepulauan Sorong.
Menurutnya, berdasarkan data tahun 2020, jumlah pengrajin Noken terus mengalami penurunan. Hal ini diakuinya terjadi karena tradisi mulai ditinggalkan seiring perkembangan zaman dan arus globalisasi.
“Generasi muda saat ini lebih banyak mengikuti tren media sosial dibanding mengenal budaya daerahnya sendiri. Padahal kita sedang bergerak dari era 4.0 menuju 5.0, sehingga budaya harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya,” ujar Koordinator kegiatan, Gustrianti M. Ali.
Gustrianti menegaskan bahwa mahasiswa menjadi target utama sosialisasi karena mereka merupakan jantung regenerasi budaya. Jika pelestarian hanya bergantung pada Mama-Mama Papua sebagai pengrajin utama, maka keberlanjutan budaya akan terancam.
“Mahasiswa harus menjadi penerus. Kalau bukan mereka, siapa lagi yang akan melanjutkan budaya ini,” ucapnya.
Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan anyaman Noken, tetapi juga fashion show busana adat yang dikemas secara inovatif namun tetap berakar pada nilai historis dan filosofis budaya Papua.
Kegiatan ini memiliki lima tujuan utama, yakni:
1. Meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap nilai historis, filosofis, dan sosial Noken serta busana adat Papua.
2. Mendorong regenerasi pengrajin melalui pelibatan pelajar dan mahasiswa.
3. Mengangkat peran Mama-Mama Papua sebagai penjaga dan pelaku utama budaya anyaman tradisional.
4. Mengintegrasikan budaya tradisional ke dalam industri kreatif lokal melalui konsep fashion show inovatif.
5. Memperkuat identitas budaya lokal sebagai bagian dari pembangunan daerah berkelanjutan.
Sasaran kegiatan mencakup Mama-Mama pengrajin Noken, generasi muda, masyarakat umum, lembaga pendidikan, pemerintah daerah, hingga pelaku UMKM berbasis budaya.
Panitia menargetkan terselenggaranya pertunjukan yang profesional dan edukatif, keterlibatan berbagai komunitas pengrajin, partisipasi aktif generasi muda sebagai model maupun penampil, serta meningkatnya publikasi budaya lokal melalui media cetak, elektronik, dan media sosial.
Selain itu, diharapkan terbentuk jejaring kerja sama antara pengrajin, desainer lokal, dan pemerintah daerah untuk mendukung program keberlanjutan.
Gustrianti berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan di Kabupaten Sorong. Apabila sukses tahun ini, program akan kembali digelar pada tahun-tahun mendatang sebagai bagian dari penguatan identitas budaya Papua Barat Daya.
“Kabupaten Sorong adalah wilayah dengan asimilasi budaya yang kuat. Jika tidak dijaga, tradisi seperti anyaman Noken bisa hilang. Karena itu, kegiatan ini menjadi langkah nyata menjaga warisan leluhur,” pungkasnya.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, LSM, kampus, dan masyarakat, semangat merajut tradisi diyakini mampu menjaga identitas Papua tetap kokoh di tengah arus modernisasi. (Jharu)










Komentar