Ketua Fopera Sebut Pos Perbatasan di Pulau Fani Wibawa Negara, Harus Ditingkatkan !!

RAJA AMPAT, PBD – Menjadi salah satu peserta dalam kegiatan pengibaran bendera merah putih sepanjang 78 meter di Pulau terluar NKRI di Pulau Fani Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, Ketua Forum Pengawal Perjuangan Rakyat (Fopera) Papua Barat Daya, Yanto Ijie angkat bicara terkait Pos perbatasan di Pulau Fani.

Ditemui Senin (21/8/23) di Pulau Fani, Yanto Ijie melihat bahwa pemerintah belum serius dalam membangun dan mendukung fasilitas di pos perbatasan di Pulau Fani Raja Ampat. Hal ini Ia bandingkan dengan fasilitas di pos perbatasan di Jayapura maupun Merauke.

“Jika kita bandingkan dengan pos perbatasan di darat, di Pulau Fani yang merupakan Pulau terluar ini sangat memprihatinkan. Padahal tingkat resiko pelanggaran cukup tinggi di atas laut. Misalnya penyelundupan orang, penyelundupan narkotika bahkan penyelundupan senjata dengan daya jangkau yang luas tidak sebanding dengan sarana fasilitas yang ada disini,” ujar Yanto.

Ia mengatakan bahwa NKRI harga mati sudah jelas bagi warga Indonesia tapi sebagai warga negara Indonesia juga butuh pengamanan, kesejahteraan, fasilitas pendukung untuk menjaga kedaulatan NKRI.

“Kalau bisa pemerintah melihat fasilitas disini, air bersih, rumah barak dan penerangan supaya prajurit garda terdepan menjaga kedaulatan NKRI ini merasa betah. Saya mau mengatakan bahwa pos perbatasan itu merupakan wibawa negara, jadi negara harus tingkatkan pembangunan. Dibangung konstruksi yang baik, layak dan lengkap. Warga negara asing yang lewat dan singgah bisa menilai bahwa negara benar-benar hadir di wilayah perbatasan,” imbuhnya.

Ia berharap dengan kunjungan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya di wilayah perbatasan antara NKRI dan negara Palau dapat meningkatkan sarana dan prasarana di wilayah tersebut.

Pantauan sorongnews.com fasilitas di pos AL perbatasan Pulau Fani terlihat satu pos jaga kecil berdiri di pintu keluar dermaga, satu Posal dengan fasilitas sejumlah ruangan, satu barak tempat tinggal prajurit Marinir, satu buah dapur dengan dinding terbuat dari kayu dan tungku perapian, satu unit sollar cell yang sudah tak lagi berfungsi, satu sumur gali dan satu buah Mushola yang terbuat dari kayu. (oke)

____

Komentar