SORONG, PBD – Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kota Sorong, Thomas Malak, mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan adat dan budaya sebagai fondasi utama dalam menjaga kedamaian serta menyelesaikan berbagai dinamika sosial di wilayah Sorong Raya dan Papua Barat Daya.
Dalam forum para-para masyarakat adat Mimbar Aspirasi Santai (MAS) Papua Bicara yang digelar LMA Provinsi Papua Barat Daya di Kabupaten Sorong, Sabtu (2/5/2026), Thomas Malak menegaskan bahwa hukum adat memiliki peran strategis sebagai jembatan alternatif bersama hukum pemerintah dalam menyelesaikan persoalan sosial di tengah masyarakat.
“Kalau kita mau damai di Papua Barat Daya, kuncinya satu, kembalikan ke adat. Hukum adat dan hukum pemerintah adalah jembatan alternatif untuk penyelesaian masalah di Papua Barat Daya ini,” tegas Thomas.
Sebagai tokoh muda Malamoi, Thomas menekankan bahwa nilai-nilai adat orang Moi mengajarkan saling menghormati, musyawarah, dan penyelesaian persoalan secara damai, yang menurutnya harus terus dikedepankan di tengah masyarakat yang majemuk.
Menurutnya, Papua Barat Daya yang terdiri dari beragam suku, agama, dan budaya membutuhkan satu perekat kuat, yakni nilai-nilai adat dan budaya sebagai benang merah persatuan.
“Adat itu bukan hanya milik suku tertentu. Nilai seperti gotong royong, musyawarah, dan sasi bisa menjadi alat pemersatu semua orang untuk mencapai kedamaian bersama,” jelasnya.
Thomas juga mencontohkan bahwa berbagai persoalan seperti sengketa tanah, kecelakaan, hingga konflik antar kampung dapat diselesaikan melalui pendekatan adat.
“Kalau kita pakai adat, tidak ada yang merasa kalah. Semua menang karena damai,” ujarnya.
Ia turut mengajak generasi muda, kaum intelektual, tokoh agama, dan tokoh adat di Sorong untuk tidak malu mengedepankan pendekatan adat dalam menyelesaikan masalah sosial.
“Anak muda harus jadi duta adat. Kalau adat punah, maka kedamaian juga ikut punah,” katanya.
Selain itu, Thomas meminta Pemerintah Kota Sorong dan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya agar menjadikan hukum adat sebagai bagian penting dalam kebijakan pembangunan, khususnya dalam program yang berkaitan dengan adat dan budaya.
Ajakan tersebut mendapat dukungan dari para tokoh adat yang hadir, yang menilai adat merupakan identitas sekaligus alat pemersatu masyarakat Papua Barat Daya.
“Kalau kita jaga adat, kita lestarikan budaya, maka kita jaga Papua Barat Daya. Kalau adat runtuh, kita semua runtuh,” tandasnya.
LMA Kota Sorong juga berharap pendidikan adat dan budaya dapat diperkenalkan sejak dini kepada generasi muda agar nilai-nilai luhur tetap hidup dan menjadi fondasi kedamaian masa depan.
“Adat itu jangkar. Kalau jangkarnya kuat, kapal Papua Barat Daya bisa melaju tanpa takut karam. Mari kita jaga bersama,” tutup Thomas Malak. (***/oke)














Komentar