oleh

Kisah Anak Yatim Piatu Korban Covid 19 Yang Disantuni Pertamina

SORONG, – Menggandeng anak bungsunya, Piah Nurlaila bersama dua putri lainnya memasuki ruang pertemuan di perumahan kilang Km 9 Kota Sorong, Papua Barat, Kamis (25/11/21). Pagi itu, Ia menjadi salah satu penerima bantuan santunan dari Pertamina RU VII Kasim.

Ketiga putrinya, Dinda, Novi dan Syifa harus menjadi Yatim diusia yang masih sangat muda. Ayah mereka menghembuskan nafas terakhirnya usai berjuang melawan Virus Corona (Covid-19) Agustus 2021 lalu. Suami Nurlaila, dinyatakan meninggal dunia akibat Covid-19 dan membuat keluarga terpukul.

Usai ditinggal selamanya oleh suami tercinta, kini Nurlaila harus menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Rumah KPR yang baru dicicilnya bersama suami, uang sekolah anak dan kebutuhan sehari-hari membuat Nurlaila harus memeras otak memenuhi kebutuhan pengeluaran keluarganya.

Ia pun menggantungkan hidup dengan membuka kios kecil-kecilan dirumahnya, meski tidak mendapatkan untung lebih, Nurlaila bersyukur masih bisa memenuhi kebutuhan ketiga putrinya. Ia pun berharap dirinya diberikan kesehatan sehingga bisa membesarkan ketiga anaknya hingga lulus sekolah.

Nurlaila bersama ketiga putrinya yang sudah menjadi Yatim akibat Ayah mereka meninggal akibat Covid-19/Oke

“Saya harus memeras otak supaya anak-anak Saya bisa makan dan bersekolah, Saya harap mereka bisa lulus sekolah minimal SMA,” ujarnya sambil mengusap bulir air mata yang tak lagi dapat ditahannya.

Dinda anak pertamanya yang kini duduk di kelas 6 SD, Novi yang duduk di kelas 1 SD dan Syifa yang masih PAUD pun berharap serupa. Tak merasakan kasih sayang seorang Ayah, kini mereka bergantung pada Ibu sekaligus Ayah mereka. Mereka pun berterima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan santunan kepada mereka.

“Terima kasih Pertamina atas kepeduliannya,” ucap anak-anak Nurlaila singkat.

Pjs General Manager Pertamina RU VII Kasim, Simon Siregar didampingi perwakilan Pertamina Foundation, Medianto, disaksikan Ketua Komisi 1 DPRD Kota Sorong, M.Taslim, Kepala Dinas Sosial Kota dan Kabupaten Sorong menyerahkan kepada sejumlah anak-anak terdampak Pandemi Covid-19.

Dalam keterangannya, Simon mengatakan bahwa bantuan tersebut dilaksanakan serentak disejumlah wilayah Indonesia dalam rangka Ulang Tahun Pertamina ke 64. Dimana Pertamina memberikan santunan kepada 6.400 anak terdampak Covid-19, termasuk wilayah Sorong.

“Semoga bantuan ini menjadi berkat buat semuanya, berkat buat kami pekerja dan buat penerima bantuan,” ujar Simon.

Pjs. GM Pertamina RU VII (kanan) memberikan santunan kepada anak-anak terdampak Covid-19/Oke

Ditambahkan oleh Unit Manager Comrel Pertamina RU VII, Dodi Yapsenang bahwa jumlah santunan yang diberikan untuk wilayah Sorong sejumlah 346 anak terdampak Pandemi Covid-19. Dimana diantaranya ada yang berstatus Yatim Piatu, Yatim atau piatu. Adapun besaran yang diberikan berupa uang tunai sebesar Rp500.000.

“Kami berterima kasih kepada anak-anak ini yang masih kuat sampai saat ini. Bantuan ini hanya sebagai stimulan, semoga kedepannya ada perhatian lebih dari sejumlah pihak lainnya untuk bersama peduli terhadap mereka yang benar-benar membutuhkan,” harap Dodi.

Selain memberikan santunan secara simbolis, Pjs General Manager Pertamina RU VII Kasim, Simon Siregar,  perwakilan Pertamina Foundation, Medianto, Unit Manager Comrel Pertamina RU VII, Dodi Yapsenang dan Direktur Politeknik Kelautan dan Perikanan menyerahkan santunan kepada salah satu anak yatim piatu terdampak Covid-19.

Penerima santunan tersebut adalah Herlina Wiradiwati yang tinggal di Rt 03 RW 03 Kelurahan Malaingkedi. Melihat kedatangan petinggi Pertamina RU VII, Ia didampingi orang tua asuhnya terharu dengan kedatangan tim dari Pertamina itu. Herlina yang kini tinggal bersama orang tua asuhnya yang merupakan Ibu RT setempat mengisahkan bahwa Ia harus terlambat mengikuti ujian akhir semester gasal 2021 karena belum membayar tunggakan SPP.

“Kemarin sempat terlambat sehari ikut Ulangan semester karena tidak ada biaya. Saya berusaha pinjam uang Rp500.000 supaya bisa ikut ujian dan akhirnya Saya bisa ikut ujian,” ujar perempuan kelahiran 26 Agustus 2004 itu.

Herlina saat menunjukan sejumlah barang dagangan onlinenya/Oke

Herlina sudah yatim sejak kecil dan harus hidup berdua dengan Ibunya, sepeninggalan Ibunya yang meninggal akibat Covid-19 pada Juli 2021 lalu, dunia Herlina berubah drastis. Tumpuan kasih sayang dari Ibu sekaligus Ayahnya tak lagi dapat dirasakan. Keluhan soal biaya sekolah yang biasa Ia sampaikan ke Ibunya tak lagi bisa dilakukan. Ia harus berjuang sendiri menyambung hidup dengan berjualan online dengan nama Herlina Olshop. Keuntungan berjualan baju dan jilbab yang Ia dapat langsung dibayarkan untuk uang sekolah.

“Saat ini ada tunggakan Rp4.500.000 uang sekolah, Semoga bisa dilunasi sebelum nanti kelulusan,” harap Siswi kelas XII SMK jurusan akuntansi tersebut. (Oke)

 

 

Komentar

News Feed