Peternak Sorong Keluhkan Penjualan Sapi Menurun, Minta Pembatasan Sapi dari Luar dan Bantuan Bibit

SORONG, PBD – Menjelang Hari Raya Idul Adha 2026, para peternak sapi di Papua Barat Daya menghadapi dua persoalan sekaligus, yakni menurunnya minat pembeli serta minimnya dukungan pemerintah dalam penyediaan bibit inseminasi buatan (IB) untuk pengembangan ternak.

Salah satu peternak sapi di Kabupaten Sorong, Mulyono, mengungkapkan bahwa penjualan sapi kurban tahun ini jauh menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada Idul Adha tahun lalu ia mampu menjual 25 hingga 30 ekor sapi, tahun ini baru sekitar tujuh ekor yang berhasil dipasarkan.

“Kalau tahun lalu kami bisa menjual lebih dari 25 sampai 30 ekor sapi, sekarang saya baru mengeluarkan sekitar tujuh ekor saja,” ujar Mulyono.

Menurutnya, salah satu penyebab turunnya penjualan adalah masuknya sapi dari luar daerah yang ikut membanjiri pasar lokal menjelang Idul Adha. Kondisi ini membuat persaingan semakin ketat dan mengurangi peluang peternak lokal untuk menjual ternaknya.

“Kalau mendatangkan sapi dari luar, mungkin tidak masalah pada momen lain. Tapi kalau saat Idul Adha, sebaiknya beri kesempatan kepada peternak lokal untuk mendapatkan peluang penjualan,” tegasnya.

Senada dengan itu, peternak lainnya, Muhammad Roji, menyoroti minimnya bantuan pemerintah dalam penyediaan bibit inseminasi buatan. Menurutnya, kebutuhan bibit IB sangat penting, khususnya bagi peternak yang memelihara sapi betina.

“Setelah Idul Adha, banyak sapi jantan dipotong untuk kurban. Karena itu, kami sangat membutuhkan bantuan bibit inseminasi buatan agar sapi betina tetap bisa dikawinkan dan populasi ternak terus bertambah,” kata Roji.

Ia menilai, tanpa dukungan bibit inseminasi buatan, peternak akan kesulitan mempertahankan produktivitas dan menambah populasi sapi lokal.

Para peternak berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih serius terhadap sektor peternakan, baik dengan mengatur masuknya sapi dari luar daerah maupun menyediakan bantuan bibit inseminasi buatan secara berkelanjutan.

Dengan dukungan tersebut, peternak lokal optimistis dapat meningkatkan populasi sapi, menjaga stabilitas usaha, serta memenuhi kebutuhan hewan kurban masyarakat Papua Barat Daya secara mandiri. (Oke)

Komentar