Peringatan Hari Dharma Samudera, Momentum Pesan Moral Perjuangan Pembebasan Irian barat ke Pangkuan NKRI

SORONG, PBD – Jajaran Armada III menggelar peringatan Hari Dharma Samudera di atas KRI dr Wahidin Sudiro Husodo yang berlabuh di perairan Kota Sorong, Papua Barat Daya, Senin (15/1/23).

Memaknai hal tersebut, KS Armada III, Laksamana Pertama TNI Singgih Sugiarto mengatakan memaknai peringatan Hari Dharma Samudera, TNI AL saat ini lebih siap dalam menghadapi kondisi apapun.

“Kami selalu siap dalam tugas rutin maupun insidentil sesuai instruksi dari pimpinan. Alutsista kami khususnya di Armada III selalu siap sedia baik di dermaga lantamal Sorong dan katapop,” tegas Singgih.

Ia pun berpesan kepada semua penerus generasi saat ini bahwa dulu para pendahulu telah berjuang dengan tulus, ikhlas, gigih, tanpa pamrih berjuang mewujudkan negara kesatuan Republik Indonesia.

“Pesan moralnya adalah bahwa kita wajib mengisi kemerdekaan yang diperjuangkan pejuang kita. Kita harus belajar yang baik, bekerja keras, tulus, iklhas, membuat karya-karya positif dalam membangun negara yang telah diperjuangkan pendahulu kita,” pesan KS Armada III.

Peringatan hari Dharma Samudera sendiri diawali dengan penghormatan kepada para syuhada pahlawan yang telah bertempur mempertahankan kedaulatan NKRI diatas perairan laut Aru pada 15 Januari 1962 dari penjajahan Belanda.

Hal ini bermula ketika Belanda melanggar perjanjian Konferensi Meja Bundar dan menolak untuk menyerahkan Irian Barat atau Papua kepada Indonesia Hal itu membuat Indonesia mulai melancarkan operasi senyap atau operasi rahasia dengan mengirimkan pasukan ke Irian Barat. Sebanyak 3 kapal Republik Indonesia yang dilibatkan dalam operasi razia untuk mengintai kekuatan armada Belanda yang ada di sekitar Irian Barat. Ketiga kapal Republik Indonesia itu adalah KRI Macan Tutul, KRI Macan Kumbang dan KRI Harimau.

Mendekati Irian Barat (Papua) pertempuran pun terjadi antara angkatan laut Indonesia dengan Belanda. Ketiga kapal perang Indonesia tidak dapat melawan kekuatan angkatan Laut Belanda dan pesawat tempurnya.

Peristiwa yang tidak seimbang dengan kekuatan Belanda itu menyebabkan gugurnya ratusan prajurit TNI AL termasuk Komodor Yos Sudarso yang terkenal dengan perintah terakhirnya “Kobarkan semangat Pertempuran”.

Pertempuran laut antara Indonesia dan Belanda tidak pernah terjadi lagi. Hal ini dikarenakan masyarakat Irian Barat memilih bergabung dengan Indonesia.

Terlihat hadir pada peringatan tersebut, Danrem 181/PVT, Danlantamal XIV, Dandim 1802 Sorong, Pj Wali Kota Sorong, Pj Bupati Sorong dan perwakilan Forkopimda lainnya. (Oke)

____

Komentar