SORONG, PBD – Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Papua Barat Daya menggelar sosialisasi dan edukasi perlindungan perempuan dan anak di SD Negeri 21 Kota Sorong, Rabu (13/5/2026).
Kegiatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman kepada siswa mengenai pentingnya perlindungan anak, cara mengenali berbagai bentuk kekerasan, menjaga diri, serta membangun lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi seluruh siswa.
Ketua BKOW Papua Barat Daya, Ida Priyanti, menegaskan bahwa setiap anak memiliki hak untuk merasa aman, dihargai, dan dilindungi dari segala bentuk kekerasan, perundungan, maupun pelecehan.
“Melalui sosialisasi ini, kami ingin menanamkan kesadaran bahwa setiap anak berhak merasa aman. Tidak boleh ada kekerasan, bullying, pelecehan, ataupun tindakan lain yang merugikan anak, baik di sekolah maupun dalam pergaulan sehari-hari,” ujar Ida Priyanti.
Menurutnya, kegiatan ini juga bertujuan membentuk karakter anak agar tumbuh menjadi pribadi yang sehat, disiplin, dan bertanggung jawab, serta berani berkata tidak terhadap segala perilaku negatif yang dapat merusak masa depan mereka.
Ida menambahkan, BKOW Papua Barat Daya sebagai wadah organisasi perempuan memiliki tanggung jawab moral dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia, khususnya di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
“Kami percaya pembangunan daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kualitas generasi mudanya,” katanya.
Ia juga mengajak para guru dan orang tua untuk terus memberikan perhatian, pendampingan, dan pendidikan karakter sejak dini.
“Komunikasi yang baik antara sekolah dan keluarga sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak,” tambahnya.
Mewakili Gubernur Papua Barat Daya, Sekretaris Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A), Rosiana Kambu, SH., MH., menyampaikan apresiasi kepada BKOW yang telah mengambil bagian dalam memberikan edukasi kepada anak-anak.
“Anak-anak adalah generasi penerus bangsa dan masa depan Papua Barat Daya. Mereka harus dijaga, dilindungi, disayangi, dan diberikan lingkungan yang aman agar dapat belajar dan bertumbuh dengan baik,” ujarnya.
Rosiana mengingatkan para siswa agar tidak saling mengejek atau melakukan bullying terhadap teman, serta tidak takut berbicara kepada guru maupun orang tua apabila mengalami hal-hal yang membuat mereka merasa takut atau tidak nyaman.
Ia juga mengimbau para guru dan orang tua untuk terus mendampingi anak-anak dengan kasih sayang, perhatian, dan komunikasi yang baik.
Seorang siswa kelas V bernama Danilo Salamauk mengaku memahami pentingnya perlindungan anak.
Ia mengatakan bahwa di sekolah dirinya tidak pernah mengalami kekerasan, namun di rumah terkadang mendapat pukulan ketika melawan orang tua.
Pengakuan tersebut menjadi pengingat bahwa perlindungan anak harus dimulai tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di dalam keluarga.
Kepala SD Negeri 21 Kota Sorong, Widodo, menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut.
Ia mengungkapkan bahwa sekolah telah rutin melakukan edukasi tentang pencegahan kekerasan dan perundungan kepada siswa, apalagi saat ini didukung Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK).
“Setiap bulan kami melakukan pembinaan kepada siswa. Kami lihat tingkat kekerasan dan bullying sudah sangat berkurang karena anak-anak terus diingatkan,” jelasnya.
Widodo juga mengakui bahwa guru harus memiliki kesabaran ekstra dalam mendidik anak-anak dan menghindari kekerasan verbal.
“Setiap hari kami melakukan briefing kepada guru untuk mengutamakan pendidikan karakter dan mencegah bullying agar tidak terulang,” katanya.
Adapun Nara sumber dalam kegiatan tersebut, kanit PPA Polresta Sorong Kota, Ipda Eka Tri Lestari Abu sama dan perwakilan Kejaksaan Negeri Sorong, Ka Terima Dimara.
Melalui kegiatan ini, BKOW Papua Barat Daya berharap tercipta sinergi antara sekolah, orang tua, masyarakat, dan organisasi perempuan dalam mewujudkan lingkungan yang aman, ramah anak, dan penuh kasih bagi generasi muda Papua Barat Daya. (Oke)

____













Komentar