oleh

Berikut Fakta Mengejutkan Kematian Mantan Ketua DPRD Kota Sorong

SORONG, – Kematian mantan ketua DPRD Kota Sorong, Wilson Reynold Jumame yang mendadak masih meninggalkan duka bagi siapapun yang mengenalnya. Vonis COVID 19 oleh Satgas Kota Sorong dan pihak RSUD Km 22 membawa polemik bagi keluarga dan masyarakat. Benarkah WRJ meninggal karena COVID-19?

Berikut fakta mengejutkan yang disampaikan oleh pihak keluarga yaitu keluarga tertua WRJ, Mariana Isir, Kakak WRJ, Sony Jumame, didampingi saudari perempuan Farlen Jumame dan isteri WRJ, Meyland Makalisa yang dijumpai di kediamannya, Kota Sorong, Papua Barat, Kamis (17/6/21).

1. Memiliki Riwayat Penyakit Maag

Dituturkan oleh isteri WRJ, bahwa WRJ memiliki riwayat penyakit maag dan kambuh pada tanggal 31 Mei namun membaik kembali dan sempat beraktifitas seperti biasa ke kampus dan video call dengan putranya yang sedang pendidikan.

“Biasa kalau maag kambuh saya kasih obat Merfinal. Terus Saya juga konsultasi ke dokter Luis dan sempat ke tempat prakteknya. Ternyata diketahui, efek Bapak sedang diet. Memang benar bapak sudah 1 bulan diet tidak makan nasi diatas jam 6 sore. Dokter bilang Maagnya yang gasnya seharusnya kebawah ini naik keatas sehingga menyebabkan hosa dan susah buang air besar. Kemudian dikasih obat sama dokter dan saya belikan nebulizer untuk mengurangi sesak nafasnya,” terang Mey.

2. Ditolak Beberapa Rumah Sakit

Setelah dipicu penyakit Maag, kondisi WRJ kemudian menurun pada Minggu malam (6/6/21). Dimana saat tidur, sudah mulai mengigau dan berbicara tak terarah.

“Sebelum kerumah sakit kita berdoa dulu. Ketika mau melangkah, Bapak sedikit berat mau ke rumah sakit dan kemudian berdoa sendiri. Saya kemudian menguatkan bahwa yang penting Bapak sehat dan akhirnya ditemani supir, Saya mengantar Bapak ke Rumah Sakit. Saya kemudian menelpon Bapak mantu menanyakan dibawa kemana, Bapak bilang ke RSAL. Sesampainya di RSAL kami sampai di UGD dan saturasi Bapak 54, kemudian dokter jaga dan perawat mengatakan semua alat full sehingga Saya langsung bawa ke RS Pertamina. Sampai ke Pertamina mengatakan tidak ada ruang ICU sehingga tidak bisa dirawat inap. Akhirnya kami pergi ke RS Maleo. Disana saat diukur suhu tubuh 38 kemudian dikasih paracetamol, saturasi pun meningkat hingga 80 dan sempat rapid antibodi hasilnya negatif. Kemudian RS merujuk dibawa ke RS KM 22 karena alasannya peralatan tidak lengkap,” terang Mey.

Sesampainya di RSUD KM 22 kemudian dilakukan penanganan di UGD dan kemudian disuruh pindah kelantai atas yang merupakan ruangan isolasi pasien COVID sambil menunggu hasil rontgen dan swab pasien WRJ.

Dimana hasil rontgen dokter mengatakan ada bercak putih pada paru-paru diduga pneumonia dan hasil Swab baru diberitahukan dua hari sebelumnya pada Rabu (9/6).

“Sejak sakit sampai Bapak sakit Saya selalu mendampingi Bapak, Saya ditegur juga sama dokter kenapa tidak pakai masker. Saya bilang, Saya isterinya jadi tidak apa dan Saya tahu pertama kali secara lisan Bapak Covid dari Cleaning service. Dokter nanti datang hari Rabu baru kasih tahu Bapak positif tapi tidak kasih buktinya,” imbuh Mey.

Sony Jumame

3. Kondisi Menurun Usai Disuntik Cairan Seperti Donald Trump

Selama beberapa hari dirawat diruang isolasi RSUD KM 22, menurut Mey ada lima suntikan yang diberikan tiap harinya diantaranya obat untuk Maag, Dexa dan antibiotik. Sejak dirawat pada Senin (7/6) kondisi WRJ mulai membaik, Hari Kamis (10/6) Mey mengatakan Ia dan suaminya berjemur dan nafsu makan suaminya membaik.

“Sejak Rabu mulai ada tambahan suntikan, Saya baca kalau tidak salah namanya Cavior. Saya tanya ke perawat katanya obat anti virus. Saya juga browsing ternyata obatnya juga dipakai sama Donald Trump untuk antibodi. Infus pertama, malamnya saturasi Bapak menurun dan merasakan panas. Hari Kamisnya jam 10 saat dokter visit, mengatakan ke Saya bahwa banyak berdoa saja, semua mukjizat dari Tuhan. Saya dan suami saling menguatkan dan berpikir baik saja, meski sebenarnya Saya tidak terima karena dokter bukan Tuhan,” urai Mey.

Efek atas suntikan dua hari yang diterima itu kemudian dilihat oleh dokter jaga dan dokter jaga meyakinkan Mey untuk segera melapor ke dokter tetap atas efek yang dirasakan oleh WRJ berupa suhu badan panas yang dirasakan WRJ meski sudah menyalakan pendingin ruangan.

“Mulutnya juga sempat miring, kemudian dokter itu bilang. Ibu nanti bilang dokter yang rutin kesini minta ganti suntikannya saja. Sepertinya tidak cocok dengan Bapak. Sambil melihat bagian punggung Bapak. Menurut saya hanya Tuhan saja yang tahu. Apakah sudah tepat penanganan atas penyakit yang suami saya alami atau tidak,”ujar Mey.

4. Meninggal Dalam Keadaan Tenang

Dituturkan Mey, jam setengah tiga Pagi hari Jumat (11/6) kondisi WRJ drop dan seperti orang pingsan. Peralatan yang digunakan WRJ juga masih menunjukan garis-garis beraturan. Kemudian Ia bergegas memanggil perawat dan dokter. Saat diperiksa WRJ dinyatakan meninggal dunia.

“Saya bersikeras bahwa Bapak belum meninggal karena peralatan belum garis lurus. Tapi saat dites pakai alat jantung ternyata sudah lurus. Seperti tersambar petir. Merasa tidak percaya, Bapak pergi secepat ini,” kisah Mey dengan mata berkaca-kaca.

Ia pun menyesalkan pihak RSUD KM 22 yang tidak secara transparan kepihak keluarga terkait status kematian suaminya.

“Saat meninggal dan keluarga ramai, Rumah Sakit hanya bilang lisan bahwa Bapak meninggal COVID. Tapi sampai detik ini, Kami belum mendapatkan surat resmi bahwa Bapak Positif COVID,” ungkap Mey.

Meriana Isir

4. RSUD Memberikan Pilihan Bagi Keluarga Hendak Dimakamkan COVID atau Tidak

Usai dinyatakan meninggal, pihak keluarga kemudian diberikan pilihan oleh RS apakah akan dimakamkan sendiri atau ikut pemakaman COVID. Keluarga pun berembug di RS dan memastikan akan dimakamkan oleh pihak keluarga.

Namun kemudian tak semudah itu, Satgas Kota Sorong yang mengetahui WRJ COVID kemudian meminta agar keluarga menahan diri dan akan dimakamkan secara protokol kesehatan.

“Ada yang tidak adil disini. Kami keluarga merasa tidak adil. Masak kalau meninggal karena COVID kami diberikan pilihan. Kalau COVID satgas atau RS harus tegas ikuti prosedur. Ini jenazah RS dan kami keluarga yang urus. Kalau pasien COVID pasti sudah dibatasi. Isteri sudah dikarantina karena kontak erat, atau melarang pelayat yang datang tidak dilakukan dan anehnya petugas tidak ada satupun yang pakai APD saat dari ruang jenazah ke ruang tengah. Ada yang tidak benar ini, dan kami harap hal ini tidak terjadi bagi keluarga lain,” terang Sony.

Ia meminta RS atau satgas tegas jika itu berkaitan dengan SOP dan tidak melakukan hal tidak adil bagi masyarakat.

Saat pemakaman pun menurut Ferlin Ia yang harus menelpon Satgas COVID kota Sorong memberitahukan bahwa Sabtu (12/6) jam 10 akan dimakamkan, agar petugas bersiap namun hal itu pun tidak sesuai dengan harapan keluarga.

“Dimakamkan biasa saja, itu juga mahasiswa Saya yang angkut peti jenazah menggunakan APD. Itu sebagai bentuk penghormatan terakhir mereka  kepada ketua Yayasan yang mereka cintai,” sesal Mey.

5. Hasil Rapid, 15 Orang Kontak Erat Dinyatakan Negatif

Bagi Mey yang kesehariannya tidak berjauhan dengan sang suami. Seharusnya Ia pun merasakan gejala terjangkitnya virus COVID. Namun hampir sepekan kematian WRJ, Ia dan 14 orang lainnya yang kontak erat dengan almarhum WRJ dinyatakan negatif COVID.

“Hasil Rapid Saya dan 14 anggota keluarga yang kontak erat yang memandikan dan memakaikan pakaian ke almarhum, dinyatakan negatif Kemarin, Rabu (16/6). Menandakan bahwa virus itu tidak ada di Bapak,” terang Mey.

6. Satgas dan RSUD Diminta Jangan Buat Kegaduhan Dengan Isu COVID

Meriana Isir meminta kepada Satgas COVID 19 Kota Sorong dan pihak RS untuk kerja profesional sesuai tupoksinya masing-masing dan jangan membuat kegaduhan apalagi hingga dipublish di media massa karena menyangkut nama baik keluarga besar.

“Jangan ada lagi dari pihak RS atau Satgas mau melakukan hal ini. Jika deteksi pasien bukan COVID atau COVID sesuaikan dengan prosedur. Kami dari keluarga tidak keberatan jika memang COVID jika ada bukti kuat. Jangan membuat masyarakat resah. Jangan sampai ada pertanyaan ada permainan apa dibalik ini. Jangan sampai pasien lain diperlakukan seperti yang terjadi buat anak kami. Apalagi menyangkut nama baik keluarga sudah disebut nama lengkap dan jabatan yang tidak menjaga privacy kami keluarga. Kami harap ini pembelajaran bagi semua pihak terutama pemerintah dalam menyatakan kebenaran kepada masyarakat,” pinta Meri. (Oke)

Komentar