oleh

KOMPIPA Cahaya Bagi Papua Pelajari Permakultur

“Ilmu adalah pelita dan membuang waktu adalah kebodohan”
SORONG, – Eko Tugas atau yang lebih akrab disapa Mbah Gimbal adalah pemilik gubuk KOMPIPA (Komunitas Peduli Papua). Gubug ini berlokasi di SP2 jalan makam kelurahan Klaru RT 03 / RW 02 Distrik Mariat Kabupaten Sorong, Papua.

Kepada sorongnews.com Sabtu (12/6/21) Pria berumur 53 tahun ini membangun gubug KOMPIPA dengan tujuan untuk membangun sistem dan desain kehidupan tanpa bergantung dengan apapun dan siapapun, dengan kata lain Mbah Gimbal mengajarkan ilmu tentang Permakultur atau peduli bumi kepada masyarakat. Mbah Gimbal sudah mengelola gubug KOMPIPA selama satu tahun dengan eksekusi yang sangat baik.

Gubug KOMPIPA juga menjadi pemasok makanan sehat diberbagai rumah sakit. Mbah Gimbal memiliki moto yaitu ilmu adalah pelita dan membuang waktu adalah kebodohan. Gubug KOMPIPA milik Mbah Gimbal juga bisa menjadi sarana belajar bagi siswa dan mahasiswa tanpa dipungut biaya dan juga ada sertifikat pendidikannya.

Selain memberikan ilmu tentang multikultur mbah gimbal juga membuka warung pada hari sabtu minggu sebagai aktivitas tambahannya.

Gubug KOMPIPA juga didatangi para petinggi dan wisatawan dari berbagai daerah mulai dari peserta Tambrauw, kepala dinas kehutanan, Bupati manokwari selatan, dosen maupun rektor dari UNIMUDA, bahkan sudah di datangi wisatawan dari Spanyol, mereka semua datang ke gubug KOMPIPA demi satu tujuan yaitu untuk mempelajari ilmu Permakultur yang akan diberikan oleh Mbah Gimbal.
Gubug KOMPIPA ini bernuansa alam, kursi dan meja semua terbuat dari kayu bekas. Ada papan namanya bertulis KOMPIPA dengan moto Belajar Bekerja dan Berbagi.

Selama Pandemi COVID 19, KOMPIPA tetap menerima wisatawan dan dapat mengikuti protokol kesehatan sebagaimana mestinya, dikarenakan akan banyak pengunjung yang datang dari berbagai daerah.

Ia juga akan membuat program wisata edukasi yang berkerja sama dengan berbagai sekolah mulai dari SD, SMP dan SMA. Karena kedepannya Ia berharap masyarakat Papua maupun luar Papua secara rata memahami ilmu Permakultur agar bumi tidak rusak dan ketahanan pangan dimasa depan dapat membaik.

“Ilmu adalah pelita dan membuang waktu adalah kebodohan, Saya berharap masyarakat Papua memahami ilmu Permakultur agar Bumi tidak rusak dan bahan pangan dimasa mendatang semakin membaik,” pesan Mbah Gimbal. (Nangjul/Mee)

Komentar