Jurnalis Ceria Itu Telah Berpulang

SORONG, – Belum sempat mengucapkan salam perpisahan, Ia telah pergi untuk selamanya. Namirah Hasmir, wartawati Radar Sorong dinyatakan meninggal dunia Rabu malam (4/8/21) dan usai dimakamkan Kamis (5/8/21).

Pelayat dari berbagai kalangan, kasta dan suku berbaur melepas kepergian Namirah diperistirahatan terakhirnya di TPU kilo meter 10 masuk.

Perempuan berusia 28 tahun itu meninggal dunia saat menjalani perawatan medis di salah satu Rumah Sakit. Ia meninggalkan seorang suami dan bayi berusia 2 bulan bernama Attaya Caraka Noesantara.

Kepergiannya yang begitu mendadak itu, sontak membuat keluarga, kerabat dan rekan seprofesi terpukul. Perempuan bertubuh mungil itu tidak pernah mengeluhkan penyakitnya, Ia selalu terlihat ceria dan selalu tersenyum dengan senyuman khas yang memamerkan gigi gingsul miliknya.

Mantan Ketua Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Papua Barat tahun 2018 – 2021, Olha Irianti Mulalinda pun merasakan hal tersebut. Menurut Olha, sosok Namirah merupakan sahabat terbaik sekaligus adiknya yang selalu ceria dan mendukung setiap kegiatan organisasi.

“Posisi terakhir almarhumah adalah bendahara di FJPI. Ia sangat totalitas dalam pekerjaannya sebagai jurnalis perempuan. Tulisan karya jurnalistiknya selalu menggugah siapa saja, apalagi tulisan featurenya selalu menginspirasi. Padahal Ia masih berstatus wartawan muda. Profesionalisme dan totalitasnya bukan hanya di pekerjaan tapi saat di FJPI. Disela kesibukan liputan, selalu ada waktu buat FJPI, membesarkan FJPI bersama jurnalis perempuan lainnya. Kenangan bersamanya terlalu manis untuk dilupakan dan takkan pernah terlupakan. Namirah nyaris sempurna, tidak ada kesan buruk semasa hidupnya,” ujar Olha.

Usai pemakaman, sejumlah jurnalis Sorong pun secara pribadi mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga Namirah. Mereka memberikan penguatan dan penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Ayah dari Namirah Hasmir, H. Hasmir pun dengan berlinangan air mata meminta kepada rekan seprofesinya untuk memaafkan kesalahan Namirah jika selama kehidupannya baik perkataan dan perbuatannya menyakiti rekannya. Ia meminta doa agar Namirah diberikan tempat yang terbaik disisi Allah SWT.

Rekan seprofesinya pun sepakat bahwa Namirah adalah orang yang sangat baik dan nyaris tanpa kesalahan selama bergaul dengan mereka. Malah salah satu rekannya, Wahyudi mengaku belum sempat meminta maaf kepada Namirah atas perbuatannya yang sering menjahili Namirah.

“Sering sekali Saya dan teman-teman menjahilinya. Anaknya baik sekali, tidak pernah marah. Dalam tekanan pun selalu ceria. Saya malah masih berpikir, Dia hanya tidur saja untuk sementara. Tapi kenyataan dan takdir Tuhan tak ada yang pernah tahu. Selamat jalan adikku,” kenang Yudi.

Selamat jalan jurnalis perempuan mungil nan tangguh. Semua catatan karya jurnalismu adalah warisan dan amalan yang akan terus mengalir mengisi catatan amal kebaikannmu di Syurga. (Fitri)

____

Komentar