Wagub PBD Ajak Siswa Berani Speak Up Laporkan Kekerasan di Sekolah

SORONG, PBD – Momen penuh keakraban mewarnai kegiatan sosialisasi dan edukasi perlindungan perempuan dan anak yang digelar Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Papua Barat Daya di MTs Negeri Kota Sorong, Sabtu (16/5/2026).

Wakil Gubernur Papua Barat Daya, Ahmad Nausrau, mengungkapkan rasa bangganya karena Kepala MTs Negeri Kota Sorong, Siti Nurani Gomarbobir, merupakan mantan guru Biologinya saat menempuh pendidikan di madrasah tersebut pada periode 1996–1999.

“Saya sangat terharu bisa kembali ke sekolah ini dan bertemu dengan Ibu Siti Nurani Gomarbobir, yang dulu adalah guru Biologi saya. Beliau ikut membentuk perjalanan pendidikan saya hingga bisa berdiri di sini,” ungkap Ahmad Nausrau disambut tepuk tangan para peserta.

Dalam sambutannya, Ahmad Nausrau menegaskan bahwa perlindungan perempuan dan anak harus menjadi prioritas besar dalam pembangunan Papua Barat Daya. Menurutnya, masa depan daerah sangat ditentukan oleh sejauh mana perempuan dan anak mendapatkan perlindungan, pendidikan, dan perhatian yang layak.

“Perempuan adalah tiang negara. Kalau perempuan berdiri tegak, kokoh, dan mendapat perlindungan, maka keluarga dan daerah juga akan kuat. Tetapi jika perempuan dan anak tidak mendapatkan perhatian, dampaknya akan sangat besar bagi masa depan Papua Barat Daya,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam melahirkan dan membentuk peradaban. Dari rahim perempuan lahir generasi penerus bangsa yang kelak akan memimpin daerah dan negara.

Karena itu, kata Nausrau, perempuan dan anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan, diskriminasi, dan pelecehan, sehingga perlu perlindungan bersama dari seluruh elemen masyarakat.

“Tidak boleh ada rasa takut bagi perempuan dan anak. Ketika mereka tidak merasa aman, sesungguhnya kita sedang mempertaruhkan masa depan dan peradaban,” ujarnya.

Menurutnya, upaya perlindungan perempuan dan anak tidak dapat hanya mengandalkan aparat penegak hukum. Pencegahan harus dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga pemerintah.

“Aparat penegak hukum berada di bagian hilir. Hulu persoalan ini ada di keluarga dan lingkungan sosial. Kalau pondasi keluarga kuat, maka anak-anak juga akan tumbuh kuat,” katanya.

Ahmad Nausrau juga menyoroti kasus perundungan dan kekerasan yang masih terjadi di lingkungan pendidikan. Ia mengingatkan para siswa untuk tidak takut melaporkan jika mengalami atau menyaksikan tindakan kekerasan.

“Jangan pernah takut bercerita kepada guru, orang tua, atau pihak yang dipercaya. Diam hanya akan membuat kekerasan terus berulang,” pesannya.

Ia mengajak masyarakat untuk menghapus stigma negatif terhadap korban kekerasan, karena keberanian untuk berbicara merupakan langkah penting dalam memutus rantai kekerasan.

Sementara itu, Ketua BKOW Papua Barat Daya Ida Priyanti mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen organisasi perempuan dalam membangun kesadaran bersama tentang pentingnya perlindungan perempuan dan anak.

“Kami ingin anak-anak memahami hak mereka untuk hidup aman, dihargai, dan dilindungi dari segala bentuk kekerasan,” ujarnya.

Kepala MTs Negeri Kota Sorong, Siti Nurani Gomarbobir, mengapresiasi BKOW Papua Barat Daya yang telah memilih sekolahnya sebagai lokasi kegiatan.

“Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga tempat membentuk karakter dan menanamkan nilai-nilai moral bagi anak-anak,” katanya.

Kegiatan ini diikuti 50 siswa dan menghadirkan narasumber dari Kanit PPA Polresta Sorong Kota, Ipda Eka Tri Lestari Abusama, serta Jaksa Kejaksaan Negeri Sorong, Katerin Dimara.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan para siswa semakin memahami pentingnya menjaga diri, menghormati sesama, menjauhi kekerasan dan narkoba, serta tumbuh menjadi generasi muda Papua Barat Daya yang cerdas, sehat, dan berkarakter. (Oke)

Komentar