oleh

Roadshow to Papua, Kisah Nyata Tujuh Tokoh Film Semesta Rawat Alam Melalui Iman dan Kepercayaan Berbeda

SORONG,- Konservasi Alam Nusantara bersama Misool Fundation menyelenggarakan Roadshow to Papua, pemutaran film Semesta di tiga tempat berbeda di Papua. Salah satunya bertempat di Kantor Yayasan Misool Baseftin, Kota Sorong, Papua Barat, Minggu malam (9/10/22).

Setelah dilaksanakan nonton bareng (nobar) secara tertutup, dilanjutkan dengan sesi diskusi. Menghadirkan 2 narasumber, yakni Sutradara Film Semesta, Chairun Nissa dan Senior Manager Yayasan Konservasi Alam Nusantara, Lukas Rumetna.

Berdasarkan pantauan sorongnews.com, usai dilaksanakan pemutaran film dan diskusi bersama, kegiatan ini ditutup dengan sesi foto bersama. Beberapa penonton yang berkesempatan hadir, sangat antusias dengan melontarkan berbagai pertanyaan, juga penyataan kekaguman terkait film dokumenter yang berjudul Semesta ini.

“Dari tujuh kisah dan tujuh budaya yang disajikan dalam film semesta, membuktikan kepada manusia ketika nilai budaya, dorongan agama, dan kearifan lokal yang berbeda dapat menjaga kelestarian alam tentunya,” kata Sutradara film Semesta, Chairun Nissa usai menonton film tersebut.

Dikatakannya bahwa, film ini memuat lensa keyakinan dan budaya dari tujuh provinsi di Indonesia, sehingga film dokumenter ini mengikuti individu-individu yang berjuang untuk mengatasi perubahan iklim yang terjadi.

Sebelumnya, film dokumenter karya sutradara Chairun Nissa dan produser Nicholas Saputra serta Mandy Marahimin ini, menceritakan sebanyak tujuh tokoh di Indonesia yang mengajak masyarakat sekitar wilayahnya masing-masing untuk dapat menjaga keseimbangan alam.

Siapa sangka, film berdurasi 88 menit ini pun berkisah tentang bagaimana campur tangan nilai kebudayaan dan kepercayaan yang saling memadukan, sehingga dari kedua nilai ini menggambarkan Indonesia secara utuh. Indonesia berbicara banyak tentang sisi keberagamannya.

Tak hanya itu, ada yang berbeda dari film produksi Tanakhir Films dengan film dokumenter bertema perubahan iklim lainnya. Film ini mampu mengajak siapa saja untuk ikut menjelajah tujuh wilayah Indonesia lengkap dengan tatanan alam, tradisi, hingga berbagai cara yang dilakukan tujuh tokoh protagonis itu. Untuk menghormati serta merawat alam melalui iman dan kepercayaan yang berbeda.

Terlihat diawalan cerita, penonton diguyur dengan suasana Bali yang dituntun oleh Tjokorda Raka Kerthyasa, bukan bicara terkait keindahan laut dan kepopuleran Bali dimata asing. Namun, Tjokorda ini turut membantu membuka mata siapa saja yang menyaksikan, guna melihat secara dalam ritual Nyepi sebagai waktu tidur siang bagi alam untuk beregenerasi.

Kemudian, cerita ini membawa penonton untuk mengalir ke arah Sungai Utik, Kalimantan Barat. Terlihat masyarakat adat menjaga dan mengelola hutan-hutan terbaik dunia melalui salah satu petuah nenek moyang Suku Dayak Iban. Menyebutkan siapa pun yang tinggal di hutan, maka isi dari hutan (alam) milik masyarakat adat yang menempatinya, sehingga harus senantiasa mempertahankan isinya.

Lebih lanjut, semesta tak hanya menawarkan dari segi keindahan sinematografi Indonesia. Sentuhan emosi dari cerita para tokohnya pun dapat menggerakkan para penonton, untuk merenungkan apa saja yang telah mereka lakukan guna memelankan krisis iklim yang terjadi.

Terkait menunda laju krisis iklim, tak memandang siapa saja yang bergerak, seperti halnya yang dilakukan oleh Pastor Katolik dan masyarakat NTT, yang memilih untuk memanfaatkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) untuk menjadi alternatif penyediaan stok listrik di lima desa pedalaman wilayah tersebut. Solusi ini juga menjadi gagasan cemerlang masyarakat dalam memanfaatkan potensi air yang melimpah dan mengurangi tingkat polusi yang disebabkan oleh generator berbahan bakar solar itu.

Selanjutnya, cerita ini juga berlari kearah sudut pandang mama-mama Papua, tepatnya di daerah Kapatcol, Papua Barat. Terlihat kelompok wanita Gereja Lokal Papua mengadakan tradisi Sasi untuk membuat hasil laut agar tidak surut secara cepat oleh keserakahan manusia. Melalui tradisi ini juga, memberikan napas bagi biota laut untuk beregenerasi, sehingga dianggap sebagai tabungan laut menurut salah satu tokoh masyarakat, Almina Kacili.

Setelah disuguhkan cerita dari Timur Indonesia, Semesta juga membawa kisah dari wilayah Barat, memperlihatkan secara dekat masyarakat Pameu, Aceh yang dimana ladang dan kebunnya rusak akibat gajah liar dari hutan turun ke desa. Kejadian itu membuat masyarakat desa menuruti berdamai dengan alam agar lebih saling mengenal dan saling memahami.

Semesta pun menyajikan pandangan dan solusi penunda laju akibat krisis iklim, melalui usaha-usaha kecil yang tentunya dapat mengalir kepada orang lain. Seperti halnya cerita dari daerah Yogyakarta, yang meniti dari praktik kolaborasi antara permakultur dan thayyib, untuk berfokus pada titik hubungan timbal balik antara manusia dan alam.

Pada menit-menit akhir, film semesta diakhiri dengan cerita dari dari ibukota, Jakarta, yang menyinggung sebuah kebun urban ditengah-tengah Kota Jakarta. Sebagai salah satu solusi masyarakat kota agar tidak terputus dengan alam dan ikut andil dalam menghargai setiap senti lahan diperkotaan, dapat menjadi sumber kehidupan yang segar ketika dimanfaatkan untuk alamnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun sorongnews.com, selain melaksanakan Roadshow to Papua bertempat di Kantor Yayasan Misool Baseftin, Kota Sorong pada Minggu malam (9/10/22) kemarin. Roadshow to Papua ini akan dilaksanakan juga di dua tempat berbeda lainnya, yakni pada tanggal 10 Oktober 2022 bertempat di Kampung Kapatcol, Papua Barat. Serta bertempat di Universitas Muhammadiyah Sorong (Unamin) pada tanggal 11 Oktober 2022 mendatang.

Film semesta ini didukung penuh oleh Soraya Cassandra, Marselus Hasan, Agustinus Pius Inam, Almina Kacili, Tjokorda Raka Kerthyasa, Iskandar Waworuntu, dan Muhammad Yusuf sebagai tokoh sentral dimasing-masing daerah dalam film ini. (Jharu)

Komentar