oleh

Perempuan Tanah Film Inspiratif Perempuan Papua, Tampil Memukau di Layar Lebar

SORONG,- Perempuan Tanah adalah film layar lebar dengan durasi pendek yang tayang perdana pada 12 September 2022 memiliki makna yang begitu dalam dan berarti bagi Perempuan Papua, kisah ini ditulis oleh Chikita Febrilia Tanati yang juga merupakan Putri Pariwisata Perwakilan Papua Barat 2022.

Chikita yang dijumpai usai menonton theater bersama penonton lainnya di Bioskop XXI Ramayana Mall Sorong, menceritakan alur cerita yang diangkat merupakan sebuah realita hidup yang kerap dialami Perempuan Tanah, agar tetap berjuang demi masa depan anak-anak mereka juga cerita ini sekaligus menunjukkan keindahan alam papua.

“Sebenarnya kisah ini lebih melihat bagaimana peran perempuan terutama hadirnya sosok Mama Eda Doo (Ibu Saya) dalam kehidupan pribadi disitu Sa (saya) lihat bahwa disini juga ada Pahlawan yang tak bersayap yaitu Mama sehingga perjalanan kisah hidupnya adalah inspirasi untuk akhirnya saya menulis dan membuat film tentang Perempuan Tanah,” ucap Chikita.

Putri Pariwisata Perwakilan Papua Barat ini juga menjelaskan bahwa kisah Perempuan Tanah juga mau mengangkat tentang bagaimana hebatnya dan luar biasanya Mama-Mama Papua.

Menurutnya, jika Ia memiliki Mama yang hebat pasti banyak sekali perempuan-perempuan diluar sana yang sama hebatnya namun, mereka terkekang dengan isu-isu yang masih tabu kekerasan seksual juga kesehatan reproduksi yang sebenarnya bisa untuk diperjuangkan agar dapat menunjukkan kalau bahwasanya Perempuan Papua juga hebat.

“Terlepas dari perjuangan perempuan tanah film ini juga melihat tentang keindahan panorama ada alam laut kemudian kita balik ke hutan, bagaimana mama dorang (mereka) menokok dan memproduksi sagu sampai dijual nah dengan hasil yang didapat mereka bisa menyekolahkan mereka punya anak-anak,” ungkapnya.

Kata Chikita, hal ini tentu menunjukkan bagaimana peran perempuan dalam dunia pariwisata dengan berjualan sagu dari hasil alam yang diolah dan ketika wisatawan datang kemudian membelinya dan mereka peroleh hasil untuk cukupi kebutuhan sehari-hari.

“Pariwisata tidak hanya tentang keindahan alam papua tapi yang paling penting bagaimana tentang keterlibatan perempuan papua ini, sebenarnya saya hanya mau mengangkat cerita tentang bagaimana stop kekerasan terhadap perempuan,” tandasnya.

Lebih lanjut ditambahkannya juga film ini secara tidak langsung mau mengajak perempuan untuk harus terus berusaha memberhentikan dunia patriarki, juga tentang bagaimana anak-anak yang harus bisa memiliki rasa pantang menyerah supaya mereka menjadi orang yang sayang sama orang tua dan sukses.

Chikita juga bercerita tentang kesulitan yang dihadapi dalam proses produksi film yang sudah ada sejak tahun 2020 selama 6 bulan namun dikarenakan pandemi makanya sempat terhenti, dan kesulitan lain yaitu alat-alat produksi yang harus didatangkan dari Jakarta bahkan sampai harus merogoh kocek pribadi.

Untuk para pemeran-pemerannya semua berasal dari keluarga Chikita yang merupakan turun dari Suku Moi yang berdomisili di kampung Malaumkarta tempat dimana proses pembuatan film dilakukan.

Hal terberat dalam produksi film ialah proses membuat cerita karena berkaitan dengan emosi dan bagaimana membayangkan betapa kerasnya menjadi perempuan papua, tatanan hidup yang harus kitong (kami) rubah, dan tidak mudah diubah dalam satu hari saja akan tetapi terus menerus.

“Emosional jadi tantangan buat saya sendiri untuk bagaimana bisa membuat cerita budaya patriarki perempuan papua yang dikemas dalam film menarik terutama durasi pendek, jadi seadanya tapi tetap terus berkarya jadi buat perempuan papua jangan pernah mudah menyerah karena tong (kami) punya bahu ini diciptakan untuk bekerja keras,” pungkasnya.

Ia berharap dari kisah ini Perempuan Papua diluar sana bisa terus berjuang sebab mereka tidak sendiri ada banyak orang-orang di luar sana yang akan selalu mensupport.

Tak lupa Chikita juga berpesan kepada generasi muda papua untuk terus semangat menggapai cita-cita setinggi mungkin jangan lupa untuk libatkan Tuhan dalam segala sesuatu 100% bukan untuk manusia tetapi untuk Tuhan yakinlah kalian akan diberkati NYA senantiasa. (Mewa)

Komentar