SORONG, PBD – Malam di Pulau Doom, Kota Sorong, Kamis (19/3/2026), tidak seperti biasanya. Cahaya obor menari di sepanjang jalan kampung, menyatu dengan lantunan takbir yang menggema dari ratusan warga yang berjalan beriringan.
Dari anak-anak hingga orang dewasa, semua larut dalam suasana penuh haru dan kebahagiaan. Takbir keliling bukan sekadar tradisi, tetapi menjadi momen kebersamaan yang dinanti setiap tahun.
Di halaman Masjid Jami Doom, warga mulai berkumpul sejak selepas Isya. Obor-obor dinyalakan, menerangi wajah-wajah yang penuh semangat menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri.
Imam Besar masjid, H. Daga Loji, berdiri di tengah jamaah, menyampaikan bahwa malam takbiran ini bukan hanya penanda berakhirnya Ramadan, tetapi juga hasil dari perhitungan bulan dan tanda-tanda alam yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Ini adalah tradisi leluhur yang kami jaga. Dari tanda-tanda alam, kami meyakini bahwa puasa telah berakhir dan besok kita menyambut Idul Fitri,” tuturnya dengan tenang.
Tak lama kemudian, iring-iringan mulai bergerak. Lantunan “Allahu Akbar” menggema, berpadu dengan langkah kaki warga yang menyusuri jalanan Pulau Doom. Di belakang barisan, becak-becak dan kendaraan roda dua turut meramaikan suasana, menciptakan pemandangan unik yang jarang ditemui di tempat lain.
Api obor yang berkelip di malam hari seakan menjadi simbol cahaya kemenangan setelah sebulan penuh menahan diri. Bagi warga, ini bukan sekadar pawai, tetapi juga bentuk syukur dan refleksi diri.
Kapolsek Sorong Kepulauan, Kosman, secara resmi melepas rombongan takbir keliling. Ia tampak tersenyum melihat antusiasme masyarakat, Ia bersama anggotanya tetap menjaga ketertiban sepanjang kegiatan berlangsung.

Di tengah keramaian, tawa anak-anak dan lantunan takbir orang dewasa berpadu menjadi satu. Tidak ada sekat, tidak ada perbedaan agama, warga non Islam juga turut antusias menyatu dalam semangat menyambut 1 Syawal 1447 Hijriah.
Bagi masyarakat Pulau Doom, tradisi takbir keliling dengan obor bukan hanya warisan budaya, tetapi juga pengingat akan pentingnya kebersamaan, dan harapan untuk memulai lembaran baru yang lebih baik.
Malam itu, di bawah langit Sorong, cahaya obor tidak hanya menerangi jalan, tetapi juga menghangatkan hati setiap orang yang ikut serta bahwa bukan soal perbedaan tapi menyatukan perbedaan menjadi sebuah harmonisasi nan indah. (olha)

____
_____
_____
_____
_____










Komentar