SORONG, PBD – Mantan Wali Kota Kota Sorong dua periode, Lambert Jitmau menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan melalui keberanian dan tindakan nyata seorang pemimpin.
Hal ini disampaikan Lambert Jitmau saat ditemui awak media pada momentum HUT ke-26 Kota Sorong, Sabtu (28/2/2026).
Dalam pernyataannya, Lambert membuka dengan rasa syukur atas perjalanan usia Kota Sorong yang kini berusia 26 tahun. Ia menyebut usia tersebut sebagai usia yang matang untuk menentukan arah dan jati diri pembangunan daerah.
“Kalau umur 20 sudah berani menikah, berarti sudah siap bertanggungjawab. Pemerintahan itu seperti mengurus rumah tangga. Harus ada tanggung jawab dan keberanian,” ujar Mantan Wali Kota Kota Sorong Lambert Jitmau
Lambert menegaskan, berbagai fasilitas yang kini berdiri di Sorong merupakan hasil dari visi, keberanian, dan komitmen kepemimpinan.
Ia mengingat kembali proyek jalan dua jalur dari Kilometer 12 hingga Kilometer 18 yang menurutnya membutuhkan keberanian besar, terutama dalam pembebasan lahan.
“Fisiknya hanya sekitar Rp8 miliar, tapi ganti ruginya lebih dari Rp10 miliar. Itu karena keberanian,” imbuhnya.
Tak hanya itu, dirinya turut menyoroti pembenahan besar di Bandara DEO Sorong yang dilakukan tak lama setelah dirinya dilantik pada 22 Juni kala itu.
“Tanggal 28 saya langsung masuk dan bongkar. Ganti rugi sampai Rp30–40 miliar, sementara APBD waktu itu masih sekitar Rp600–700 miliar. Namun dengan anggaran minim, kita buat sesuatu yang luar biasa,” terangnya
Dalam kesempatan tersebut, Lambert mengungkapkan perannya dalam mendorong perhatian pemerintah pusat terhadap Sorong, termasuk menghadirkan Presiden RI saat itu, Joko Widodo ke daerah tersebut.
Ia menilai, penguatan akses transportasi udara dan laut menjadi kunci kemajuan Papua Barat Daya, dengan Sorong sebagai pintu gerbang utama Tanah Papua.
Setelah Bandara, pembangunan difokuskan pada Pelabuhan Sorong. Ia menyebut kondisi pelabuhan sebelumnya hanya mampu melayani satu kapal sandar, sementara kapal lain harus antre di laut.
“Papua Barat Daya harus maju lewat perhubungan udara dan laut. Barang dari Jawa sampai di Makassar, masuknya lewat Sorong,” ucapnya sembari merujuk pada distribusi logistik dari Jawa dan Makassar.
Salah satu proyek yang paling disoroti yakni reklamasi pantai seluas 50 hektare yang kini menjadi ikon baru daerah tersebut. Lambert menyebut proyek itu sempat menuai kritik, namun dirinya tetap melangkah maju.
“Laut 50 hektare saya jadikan daratan. Sekarang jadi ikon. Semua orang lakukan aktivitas di situ,” tuturnya.
Ia menyebut dukungan turut datang dari berbagai daerah seperti Wamena hingga Merauke yang menghubunginya dan memberikan apresiasi.
Selain reklamasi, ia mengakui membangun Stadion dalam waktu delapan bulan serta melakukan berbagai pembebasan lahan demi kepentingan umum, termasuk kepada masyarakat adat Moi.
Lambert menekankan bahwa pemimpin harus bertindak, bukan sekadar berbicara. Ia mengibaratkan Papua Barat Daya sebagai kepala burung yang mengatur seluruh organ tubuh, merujuk pada wilayah Kepala Burung tanah Papua.
“Kalau kepala putus, burung mati. Tapi kalau sayap atau kaki yang putus, masih bisa jalan. Artinya kepemimpinan itu penentu,” tegasnya.
Dirinya menyampaikan bahwa selama masa kepemimpinannya, jumlah distrik di Sorong bertambah menjadi 10, termasuk pembangunan enam distrik baru dengan fasilitas kantor dua lantai.
Di akhir penyampaiannya, Lambert menitipkan pesan tegas untuk jangan datang menikmati sejarah namun jadilah pelaku sejarah. Menurutnya, pembangunan daerah hanya bisa terwujud jika kepala daerah berani mengambil keputusan, bertindak untuk kemajuan, serta menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai prioritas utama.
“Jangan datang menikmati sejarah, jadilah pelaku sejarah. Pembangunan daerah hanya bisa terwujud jika kepala daerah berani mengambil keputusan, bertindak untuk kemajuan, serta menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai prioritas utama bukan yang lain,” tandasnya. (Jharu)








Komentar