SORONG, PBD – Pertamina Patra Niaga bersama Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya menggelar forum diskusi membahas kehandalan suplai LPG di wilayah Papua Barat Daya di tengah kondisi geopolitik global yang berdampak pada rantai distribusi energi, di Kota Sorong, Papua Barat Saya, Rabu (15/4/26).
Dalam keterangan pers yang diterima Redaksi, forum tersebut terlihat dihadiri Pj Sekda Papua Barat Daya, Yakob Kareth dan Ketua Komisi II DPRP, Mamalia Tafalas.
Pertamina menjelaskan langkah strategis yang dilakukan untuk menjaga pasokan LPG tetap tersedia bagi masyarakat, yakni dengan melakukan perubahan jalur suplai dari sebelumnya melalui Surabaya menjadi dari Ambon ke Sorong.
Langkah ini dilakukan untuk mengoptimalkan sarana dan fasilitas pengisian LPG di wilayah Papua dan Maluku agar distribusi energi tetap berjalan stabil.
Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan ESDM Provinsi Papua Barat Daya, Suroso, menyampaikan apresiasi atas langkah cepat Pertamina dalam menjaga stok LPG di tengah tantangan global.
“Kondisi geopolitik ini tidak bisa dihindari, sehingga pemerintah mengapresiasi langkah konkret Pertamina dalam mengubah titik suplai dari Surabaya ke Ambon demi memastikan LPG tetap tersedia,” ujarnya.
Namun demikian, perubahan jalur distribusi tersebut berdampak pada kenaikan biaya transportasi yang ikut mempengaruhi harga jual LPG di pasaran.
Hal ini mulai terlihat dengan beredarnya surat pemberitahuan penyesuaian harga dari PT Irja Kasim Petrogas tertanggal 15 April 2026, yang menyatakan harga baru LPG berlaku mulai 16 April 2026, yakni:
LPG 50 Kg menjadi Rp1.850.000
LPG 12 Kg menjadi Rp445.000
LPG 5,5 Kg menjadi Rp210.000
Menurut Suroso, penyesuaian harga merupakan konsekuensi logis dari perubahan jalur suplai, namun pemerintah memastikan kenaikan tetap dalam batas kewajaran.
“Kami akan menjaga agar penyesuaian harga ini tetap pada tingkat yang wajar bagi masyarakat dan tidak memberatkan secara berlebihan,” lanjutnya.
Ketua Komisi II DPR Papua Barat Daya, Jamalia Tafalas, juga menilai kenaikan harga sulit dihindari mengingat adanya tambahan biaya distribusi.
“Ada perubahan rute suplai dan tambahan cost yang berdampak pada harga LPG. Tetapi yang terpenting adalah masyarakat tidak lagi kesulitan mendapatkan LPG,” katanya.
Sementara itu, Area Manager Communication Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku, Ispiani Abbas, menegaskan pihaknya berkomitmen menjaga distribusi LPG di Sorong dan Papua Barat Daya tetap aman.
“Pertamina saat ini sedang melakukan alih suplai LPG dari Ambon ke Sorong untuk memperkuat jaminan ketersediaan LPG bagi masyarakat di tengah kondisi geopolitik saat ini,” jelas Ispiani.
Pemerintah berharap ke depan Papua Barat Daya sebagai daerah penghasil migas dapat memiliki fasilitas suplai LPG sendiri guna menekan biaya distribusi dan menjaga stabilitas harga di tingkat masyarakat. (**/oke)

____
_____
_____
_____
_____
____







Komentar