oleh

Dari Timur Indonesia hingga ke Amerika: Pengalaman Mengikuti YSEALI AFP

ATLANTA – AMERIKA, – “Siapa sangka bisa ke Amerika tahun ini?” adalah kalimat yang saya terus pikirkan sebelum naik pesawat. Tanggal 5 Agustus lalu, saya berangkat ke Atlanta, Georgia, salah satu kota besar di Negeri Paman Sam tersebut. Saya tidak pergi sendiri, tapi bersama teman-teman delegasi Indonesia untuk YSEALI Academic Fellowship Program angkatan Fall 2021. Kami bertujuh akan menjalani program in-person langsung di AS, setelah program virtual tahun lalu sudah dilaksanakan. Namun, kami dibagi menjadi dua kelompok karena terdapat dua kampus tujuan dalam program ini. Tiga orang peserta mengikuti program di University of Nebraska di Omaha, Nebraska, sedangkan saya bersama 3 peserta lain pergi ke Kennesaw State University di Atlanta, Georgia.

Jadi, sebenarnya program apa yang saya ikuti ini? Young Southeast Asia Leaders Initiative (YSEALI) adalah program beasiswa khusus dari pemerintah AS untuk menguatkan kapasitas kepemimpinan pemuda, pembangunan, dan jejaring di Asia Tenggara. Program tersebut bergerak di bidang civic engagement, economic empowerment and social entrepreneurship, education, environmental issues. Pemuda yang aktif dan melakukan advokasi di bidang keterlibatan masyarakat, ekonomi, bisnis, wirausaha, pendidikan, dan isu lingkungan bisa ikut serta di dalamnya. Program di YSEALI yang saya ikuti sekarang adalah Academic Fellowship yang ditujukan untuk generasi muda usia 18-25 tahun, yang sedang berkuliah atau baru lulus, untuk menjalani pertukaran pelajar ke AS selama 3-5 minggu, di salah satu kampus mitra kerja sama. Siapa saja yang bisa ikut? Semua generasi muda dari Asia Tenggara. Nah, saya terpilih dalam program di tahun 2021 tetapi baru berangkat sekarang karena tertunda pandemi.

Dari angkatan kami, Saya merupakan fellow termuda dan satu-satunya dari Papua (Indonesia Timur). Rasanya sangat bangga dan bersyukur karena sebagai anak Papua, diberikan kesempatan untuk belajar ke luar negeri saja merupakan sesuatu yang langka. Saya akui memang di Papua banyak SDM berkualitas yang kurang mendapat spotlight, hanya karena kurang percaya diri akan kemampuan berbahasa asing. Pada awal program, saya juga sempat merasa demikian. Namun, lingkungan dan orang-orang di dalamnya justru tidak mendiskriminasi, dan memastikan semua peserta mendapat kesempatan berbicara yang sama. Ketika di AS, saya mendapatkan kenalan dan teman-teman baru dari seluruh Asia Tenggara. Setiap mereka bergerak di komunitas masyarakat dan telah memberikan kontribusi untuk kesejahteraan publik. Saya berkesempatan untuk belajar mengenal apa saja yang mereka lakukan, bertukar pikiran, juga tentang kebudayaan.

Kami menjalani serangkaian kegiatan di beberapa tempat di Georgia, mulai dari belajar tentang bisnis, investasi, dan ekonomi pembangunan hijau untuk negara berkembang di Global Atlanta; mengunjungi Refugee Coffee, belajar tentang bagaimana kehidupan para imigran di AS; melakukan perjalanan darat ke Selma dan Montgomery di Alabama dimana secara khusus belajar tentang sejarah perbudakan masyarakat kulit hitam di AS dan tokoh pergerakan sipil yang paling terkenal seperti Dr. Martin Luther King Jr; mengunjungi Refugee’s garden di Clarkston dan belajar bagaimana konsep bercocok tanam dari para keluarga imigran berbaur dengan kebersamaan sebagai sebuah komunitas.

Ada tiga pelajaran penting yang saya dapatkan dari program ini secara keseluruhan. Pertama, dalam segala sesuatu yang kita lakukan baik untuk diri sendiri, terlebih lagi terhadap orang lain dan masyarakat, harus punya sifat rendah hati serta menghargai. Semua orang punya hak berpendapat dan kita harus belajar mendengar sebagai bentuk empati. Kedua, memberi dampak tidak harus dengan hal-hal besar yang memerlukan banyak biaya tetapi bisa dimulai dari hal-hal kecil di sekitar kita. Contohnya, mengajak generasi muda di sekitar melalui aktivisme digital di sosial media, memberi pengaruh dengan memanfaatkan platform yang kita miliki, atau bisa juga dengan berkolaborasi bersama komunitas di sekitar kita. Ketiga, multikulturalisme membawa keberagaman yang saling menguatkan. Dengan adanya perbedaan, baik itu suku, ras, agama, gender, kepercayaan, asal, toleransi dan solidaritas berdampak penting dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Tidak ada pemimpin yang sempurna, tetapi kita generasi muda bisa belajar menjadi pemimpin yang memiliki kasih terhadap sesama.

Akhir kata, pesan saya untuk generasi muda khususnya anak-anak Papua: kita harus bangga menjadi orang Papua, kita bisa dan mampu untuk menjadi pemimpin masa depan. Jangan berkecil hati karena kesempatan itu datang kepada siapa saja yang mau mencari dan berusaha. Bahasa tidak jadi penghalang kalau kita mau berdedikasi untuk belajar dan terus berusaha. YSEALI ini salah satu wadah yang tepat untuk kita bisa memperdalam potensi kepemimpinan, khususnya agar berdampak bagi lingkungan di sekitar, bagi masyarakat Papua.(**)

**Penulis : Christin Chatrin Nebore, Peserta YSEALI Academic Fellowship asal Sorong, Papua Barat

 

Komentar