SORONG, PBD – Alumni Studi Manokwari bersama Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua menggelar kegiatan penanaman pohon di kawasan Tugu Pendaratan Injil Tanah Malamoi, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Rabu (4/2/2026).
Ketua Alumni Studi Manokwari, Natalsen Basna, mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi langkah awal alumni untuk bermitra dengan pemerintah dalam menjawab isu kerusakan hutan dan ketahanan pangan di Tanah Papua di momentum hari Pekabaran Injil di tanah Papua 5 Februari.
“Kami memulai dari Monumen Pendaratan Injil di Tanah Malamoi. Ini menjadi komitmen kami bahwa alumni Studi Manokwari siap berkolaborasi dengan pemerintah dan semua pihak untuk menghijaukan Papua Barat Daya,” ujar Natalsen.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya yang telah menyalurkan 1.000 bibit pohon, di mana sebagian telah ditanam dalam kegiatan tersebut.
Asisten III Setda Kota Sorong, Musa Fonataba, yang hadir mewakili Pemerintah Kota Sorong, mengapresiasi kegiatan penanaman pohon yang digagas oleh alumni dan Sinode GKI.
Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan mengantisipasi dampak perubahan iklim.
“Kami mengapresiasi kegiatan ini karena memberi contoh nyata kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga alam,” kata Musa.
Mewakili Ketua Sinode GKI di Tanah Papua, Naomi Netty Howay, menyampaikan bahwa GKI telah mencanangkan gerakan penanaman sejuta pohon yang melibatkan 70 klasis di seluruh Tanah Papua.
Program tersebut dilaksanakan secara berjenjang, mulai dari tingkat sinode, klasis, hingga jemaat, dan ditargetkan berjalan hingga tahun 2026.
Di Klasis Sorong, sebanyak 47 jemaat telah menerima bibit untuk ditanam di lingkungan gereja dan permukiman.
“Ini bentuk kepedulian gereja terhadap manusia dan alam ciptaan Tuhan. Tanpa pohon, kita akan semakin jauh dari keseimbangan hidup,” ujar Naomi.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari peringatan 171 tahun masuknya Injil di Tanah Papua, yang dimaknai sebagai momentum pertobatan dan keselamatan yang diwujudkan melalui aksi nyata menjaga lingkungan.
Menurut Natalsen Basna, pohon menjadi simbol kehidupan dan berkat bagi banyak orang.
“Tanpa pohon, kita rentan terhadap bencana. Dengan menanam, kita menanam masa depan,” ujarnya.
Asisten II Setda Provinsi Papua Barat Daya, Jhony Way, mengatakan bahwa Pemprov PBD telah mencanangkan program Satu Juta Pohon Tahun 2026 di seluruh wilayah Papua Barat Daya.
Program ini sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun Pengabaran Injil di Papua.
Ia mengutip pernyataan Kepala Dinas Lingkungan Hidup PBD yang menyebutkan bahwa kondisi bumi saat ini sudah berada pada fase “mendidih”, sehingga dibutuhkan langkah konkret untuk menghijaukan kembali lingkungan.
“Penanaman pohon adalah langkah penting untuk mencegah bencana akibat rusaknya ekologi hutan,” tegas Jhony.
Pemprov PBD juga mendorong Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pertanian untuk terus menyalurkan bibit kepada komunitas, gereja, dan kelompok masyarakat.
Mewakili Alumni, Maria Jitmau turut mengajak seluruh pihak agar kegiatan penghijauan tidak dijadikan ajang persaingan, melainkan sebagai gerakan bersama demi masa depan Papua.
“Ini bukan soal siapa yang paling banyak menanam, tetapi bagaimana kita menjaga alam secara bersama-sama,” katanya.
Ditambahkan alumni lainnya Joflin Karet, kegiatan penanaman pohon ini menjadi bukti nyata sinergi antara alumni, gereja, dan pemerintah dalam menjaga kelestarian lingkungan di Papua Barat Daya.
Diharapkan, gerakan ini terus berlanjut dan mampu menciptakan Papua yang hijau, lestari, serta jauh dari ancaman bencana alam. (oke)













Komentar