SORONG, PBD – Pemadaman listrik saat pelaksanaan sholat tarawih, Minggu (22/2/2026) sekitar pukul 20.30 WIT, menuai kritik tajam dari masyarakat. Gangguan yang terjadi di malam kelima Ramadan 1447 H itu dinilai sebagai bentuk kelalaian dalam mengantisipasi beban dan stabilitas sistem kelistrikan, khususnya pada momentum ibadah umat Muslim.
Sejumlah masjid di Kota Sorong terpaksa melanjutkan sholat tarawih hingga witir dengan penerangan seadanya dengan memanfaatkan cahaya senter dari telepon genggam. Meski ibadah tetap berjalan dengan khusyuk, suasana gelap gulita di dalam masjid menimbulkan kekecewaan di kalangan jamaah.
Dalam keterangan tertulisnya, PLN ULP Sorong Kota menyampaikan bahwa pemadaman terjadi akibat padam tidak terencana yang disebabkan gangguan pembangkit dan berdampak meluas di sejumlah wilayah Kota Sorong. Pihak PLN juga meminta kesabaran masyarakat dan menyatakan tim teknik sedang bekerja melakukan penormalan sistem.
Namun, sejumlah warga mempertanyakan kesiapan PLN, terlebih di bulan Ramadan yang setiap tahunnya mengalami peningkatan konsumsi listrik pada malam hari.
Siti, salah satu jamaah, mengungkapkan kekecewaannya.
“Ramadan itu datang setiap tahun, bukan mendadak. Harusnya PLN sudah mengantisipasi lonjakan pemakaian listrik saat tarawih. Kami datang ke masjid untuk beribadah dengan tenang, bukan dalam gelap,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Dulah, jamaah lainnya. Ia menilai pemadaman di waktu krusial menunjukkan lemahnya manajemen sistem.
“Kalau alasannya gangguan pembangkit, berarti ada yang tidak beres dalam pengawasan. Masa di jam ibadah seperti ini bisa padam meluas? Ini bukan pertama kali listrik bermasalah,” tegasnya.
Masyarakat berharap PLN tidak sekadar menyampaikan permintaan maaf dan imbauan bersabar, tetapi juga memberikan penjelasan transparan serta langkah konkret agar kejadian serupa tidak kembali terulang, terutama pada momentum penting keagamaan yang membutuhkan dukungan layanan publik yang andal dan profesional. (oke)







Komentar