SORONG, PBD – Rumah Etnik Papua resmi menggelar grand opening atraksi tarian drama musikal yang memadukan tarian, musik, dan cerita rakyat khas Papua dalam satu panggung budaya, bertempat di Rumah Etnik Papua, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, Senin (30/3/2026).
Atraksi tarian drama musikal ini menjadi terobosan baru dalam penyajian atraksi budaya Papua yang bisa dinikmati masyarakat maupun wisatawan.
Ketua Yayasan Rumah Etnik Papua, Mitshi Wanma Burdam menjelaskan bahwa konsep pertunjukan ini terinspirasi dari pertunjukan budaya seperti Tari Kecak di Bali, namun dikemas dengan kekhasan Papua.
“Konsepnya mirip seperti itu, namun ini kita isi dengan atraksi budaya Papua. Ada tarian, cerita rakyat, hingga fashion show kostum tradisional dari berbagai suku di Papua,” ujar Ketua Yayasan Rumah Etnik Papua, Mitshi Wanma Burdam.
Lebih lanjut, dirinya pertunjukan ini akan digelar rutin setiap hari pukul 17.00 WIT, sehingga wisatawan tidak perlu menunggu event tertentu untuk menikmati kekayaan budaya Papua.
Saat ini, atraksi yang ditampilkan masih didominasi tarian dari Suku Biak, namun kedepan pihaknya akan menggandeng berbagai sanggar tari dari seluruh wilayah Papua Barat Daya.
“Kedepan akan ada tarian dari suku Moi, Maybrat, Kokoda dan lainnya. Jadi pengunjung tidak bosan karena selalu ada variasi budaya yang ditampilkan,” ucapnya.
Dirinya menyebut, selain tarian, pengunjung turut dapat menikmati Fashion show busana tradisional Papua, Atraksi budaya seperti rencana barapen (bakar batu), Kuliner khas Papua seperti papeda, Penyewaan kostum tradisional hingga Interaksi langsung dan foto bersama penari berbusana khas Papua.
Menurut Mitshi, kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kecintaannya terhadap budaya Papua yang mulai tergerus zaman.
“Saya ingin generasi muda Papua mencintai budaya sendiri. Selain itu, ini juga membuka peluang kerja bagi anak-anak muda Papua melalui sanggar-sanggar tari,” ungkapnya.
Dalam perekrutan penampil, pihaknya bekerja sama langsung dengan sanggar tari yang sudah ada, sehingga tidak perlu melakukan pelatihan dari awal.
“Untuk menikmati pertunjukan ini, pengunjung dikenakan tarif Wisatawan lokal Rp 100.000 sementara Wisatawan mancanegara Rp 200.000. Harga tersebut sudah termasuk snack, minuman (air mineral, teh, kopi), serta kesempatan berinteraksi langsung dengan para penari,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sorong, Hendrik Momot menyambut baik kehadiran Rumah Etnik Papua sebagai destinasi wisata edukatif.
“Ini menjadi sarana edukasi bagi generasi muda untuk mengenal budaya Papua dari berbagai daerah,” kata Kadisparpora Kabupaten Sorong Hendrik Momot.
Ia menyebutkan bahwa pemerintah daerah terus memberikan dukungan, baik dari sisi fasilitas maupun promosi, guna meningkatkan kunjungan wisatawan.
Selain Rumah Etnik Papua, Kabupaten Sorong juga memiliki sejumlah destinasi wisata unggulan seperti Batu Lubang hingga Malaumkarta serta beberapa destinasi baru yang tengah dikembangkan, termasuk kawasan air panas di wilayah Klayili.
“Harapannya, destinasi-destinasi ini dapat mendukung sektor pariwisata dan meningkatkan daya tarik Kabupaten Sorong ke depan,” imbuhnya. (Jharu)

____
_____
_____
_____
_____
____







Komentar