Eksistensi Anak Muda di Media Sosial : Antara Realita dan Ilusi

***** Penulis : Qurrota A’yun, Rina Angrraini, Silviyani (Mahasiswa IAIN Sorong Prodi Komunikasi Penyiaran Islam semester VI)

Abstract

Penelitian ini mengkaji fenomena eksistensi diri di media sosial serta keterkaitannya dengan terbentuknya hiperrealitas dalam kehidupan pengguna. Isu ini menjadi krusial karena media sosial tidak lagi sekadar sarana komunikasi, melainkan ruang pembentukan citra diri dan realitas semu yang dapat memengaruhi persepsi serta kondisi psikologis individu. Dalam konteks teori hiperrealitas, media sosial dipahami sebagai medium yang memungkinkan individu menampilkan realitas yang telah dikonstruksi menjadi lebih ideal dibandingkan kondisi sebenarnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh eksistensi diri di media sosial terhadap pembentukan citra diri serta mengidentifikasi dampak hiperrealitas terhadap persepsi sosial dan kondisi psikologis pengguna. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei deskriptif dan eksplanatif, yang didukung oleh data kuesioner dan wawancara terhadap pengguna media sosial aktif. Analisis data dilakukan melalui tahapan pengolahan statistik dan interpretasi temuan untuk menjelaskan hubungan antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengguna cenderung menampilkan sisi terbaik kehidupannya dan menjadikan respons sosial sebagai ukuran penerimaan diri. Hal ini mendorong terbentuknya persepsi bahwa kehidupan di media sosial lebih ideal, sehingga memunculkan kecenderungan membandingkan diri dan tekanan sosial. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kritis dan literasi digital agar pengguna dapat memaknai media sosial secara lebih bijak.

Latar Belakang

Perkembangan media sosial telah mengubah cara individu menampilkan diri dan membangun hubungan sosial di tengah masyarakat digital. Platform seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan X/Twitter tidak lagi hanya digunakan sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menjadi ruang untuk menunjukkan keberadaan diri, memperoleh pengakuan, serta membangun citra pribadi di lingkungan pertemanan. Banyak pengguna aktif mengunggah foto, video, maupun aktivitas sehari-hari agar tetap terlihat eksis dan relevan. Jumlah pengikut, like, komentar, serta respons dari orang lain sering dijadikan ukuran popularitas dan penerimaan sosial. Kondisi ini mendorong sebagian individu merasa perlu mengikuti tren agar tetap dianggap aktif di media sosial. Bahkan, tidak sedikit pengguna yang menghapus unggahan ketika respons yang diterima dianggap kurang memuaskan. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran besar dalam membentuk perilaku sosial masyarakat modern. Secara akademik, hal ini penting dikaji karena berkaitan dengan perubahan pola interaksi dan identitas digital. Secara praktis, pemahaman terhadap fenomena ini dapat membantu masyarakat menggunakan media sosial secara lebih sehat dan seimbang. Oleh karena itu, eksistensi diri di media sosial menjadi isu yang krusial untuk diteliti.

Berbagai penelitian terdahulu telah membahas hubungan media sosial dengan pembentukan identitas diri, pencitraan, dan kebutuhan akan pengakuan sosial. Sejumlah studi menyatakan bahwa media sosial memungkinkan individu menampilkan versi terbaik dirinya melalui pengaturan konten yang diunggah. Penelitian lain juga menemukan bahwa interaksi digital seperti like, komentar, dan jumlah pengikut dapat memengaruhi kepercayaan diri seseorang. Selain itu, beberapa kajian menggunakan teori hiperrealitas Jean Baudrillard untuk menjelaskan bagaimana media sosial menghadirkan realitas semu yang tampak lebih menarik daripada kehidupan nyata. Namun demikian, sebagian besar penelitian masih berfokus pada satu aspek tertentu, seperti perilaku narsisme, intensitas penggunaan media sosial, atau dampak psikologis secara umum. Penelitian sebelumnya juga masih jarang menghubungkan secara langsung antara kebutuhan eksistensi diri dengan terbentuknya hiperrealitas dalam kehidupan digital pengguna muda. Selain itu, belum banyak studi yang menyoroti bagaimana pencitraan berlebihan di media sosial dapat menimbulkan tekanan sosial, rasa iri, dan kecenderungan membandingkan diri. Kekurangan inilah yang menjadi alasan penting dilakukannya penelitian lebih lanjut. Dengan demikian, dibutuhkan kajian yang lebih komprehensif mengenai hubungan eksistensi diri dan hiperrealitas media sosial.

Penelitian ini dilakukan untuk merespons keterbatasan penelitian terdahulu dengan menganalisis keterkaitan antara perilaku eksistensi diri di media sosial dan munculnya hiperrealitas pada pengguna. Secara khusus, penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana media sosial digunakan sebagai sarana menunjukkan keberadaan diri melalui unggahan aktivitas, pencarian respons sosial, dan pembentukan citra digital. Penelitian ini juga bertujuan mengidentifikasi sejauh mana media sosial menampilkan kehidupan yang tampak lebih ideal dibandingkan kenyataan sehari-hari. Selain itu, tulisan ini membahas dampak dari realitas semu tersebut terhadap kondisi psikologis pengguna, seperti rasa tidak percaya diri, iri terhadap pencapaian orang lain, serta tekanan untuk tampil sempurna. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran empiris mengenai perilaku pengguna dalam memaknai media sosial. Melalui pendekatan tersebut, penelitian ini berupaya menjelaskan perubahan interaksi sosial di era digital. Hasil penelitian juga diharapkan dapat menjadi rujukan akademik dalam pengembangan kajian komunikasi digital. Secara praktis, penelitian ini dapat menjadi bahan edukasi bagi masyarakat agar lebih kritis terhadap isi media sosial. Dengan demikian, tujuan utama penelitian ini adalah memahami hubungan antara eksistensi diri dan hiperrealitas di media sosial.

Penelitian ini berangkat dari dugaan bahwa semakin tinggi kecenderungan seseorang menggunakan media sosial sebagai sarana eksistensi diri, maka semakin besar pula peluang terbentuknya hiperrealitas dalam kehidupannya. Individu yang sering mengunggah aktivitas, mengejar jumlah pengikut, serta bergantung pada like dan komentar cenderung lebih fokus membangun citra ideal dibandingkan menampilkan kondisi nyata. Keadaan tersebut dapat mendorong pengguna menampilkan sisi terbaik hidupnya secara berlebihan. Akibatnya, media sosial dipersepsikan sebagai ruang yang dipenuhi kebahagiaan, keberhasilan, dan gaya hidup sempurna. Paparan terhadap realitas semu ini diduga menimbulkan tekanan sosial bagi pengguna lain untuk mengikuti standar yang sama. Semakin sering seseorang membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain di media sosial, maka semakin tinggi potensi munculnya rasa iri dan tidak percaya diri. Selain itu, hiperrealitas di media sosial diduga berpengaruh negatif terhadap kesehatan psikologis dan persepsi diri pengguna. Oleh karena itu, hubungan antara eksistensi diri dan hiperrealitas penting diuji secara empiris. Jika hipotesis ini terbukti, maka media sosial bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga ruang produksi realitas semu. Dengan demikian, penelitian ini menguji pengaruh eksistensi diri terhadap terbentuknya hiperrealitas serta dampaknya terhadap psikologis pengguna.

Rumusan Masalah

1. Apakah terdapat pengaruh eksistensi diri di media sosial terhadap pembentukan citra diri pengguna?

2. Apakah hiperrealitas di media sosial berpengaruh terhadap persepsi pengguna tentang kehidupan sosial serta kondisi psikologis pengguna?

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan media sosial sebagai sarana eksistensi diri terhadap terbentuknya hiperrealitas pada pengguna. Selain itu, penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana perilaku pengguna dalam membangun citra diri melalui unggahan, jumlah pengikut, serta respons sosial seperti like dan komentar. Penelitian ini juga bertujuan mengidentifikasi sejauh mana media sosial menampilkan kehidupan yang tampak lebih ideal dibandingkan kenyataan sebenarnya. Selanjutnya, penelitian ini bertujuan mengkaji dampak hiperrealitas media sosial terhadap kondisi psikologis pengguna, seperti rasa tidak percaya diri, iri hati, tekanan sosial, dan kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi akademik dalam kajian komunikasi digital serta menjadi bahan edukasi bagi masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial.

Literatur Review

Eksistensi diri merupakan kebutuhan individu untuk diakui keberadaannya dalam lingkungan sosial, termasuk dalam ruang digital. Di media sosial, eksistensi ini ditunjukkan melalui aktivitas berbagi konten seperti foto, video, maupun tulisan yang merepresentasikan identitas pengguna. Goffman (1959) menjelaskan bahwa individu cenderung menampilkan “front stage” atau citra terbaik dirinya di hadapan publik. Media sosial memperkuat praktik tersebut karena pengguna dapat mengatur, memilih, dan mengontrol konten yang ditampilkan kepada orang lain. Dengan demikian, eksistensi diri di media sosial tidak selalu mencerminkan kondisi nyata, melainkan hasil konstruksi yang disengaja.

Citra diri merupakan gambaran individu tentang dirinya yang terbentuk melalui interaksi sosial, termasuk di media sosial. Konsep self-presentation menurut Leary (1996) menjelaskan bahwa individu berusaha mengelola kesan agar diterima secara sosial. Dalam media sosial, pengguna sering menampilkan versi terbaik dirinya melalui foto yang telah diedit atau momen yang dipilih secara selektif. Valkenburg, Peter, dan Schouten (2006) menemukan bahwa respons positif seperti like dan komentar dapat meningkatkan kepercayaan diri pengguna. Sebaliknya, kurangnya respons dapat memengaruhi persepsi diri secara negatif.

Hiperrealitas merupakan konsep yang diperkenalkan oleh Jean Baudrillard (1983) untuk menjelaskan kondisi ketika batas antara realitas dan simulasi menjadi kabur. Dalam konteks media sosial, pengguna tidak hanya merepresentasikan kehidupan, tetapi juga menciptakan realitas baru yang tampak lebih ideal. Konten yang diunggah sering kali telah melalui proses seleksi dan manipulasi sehingga terlihat lebih menarik daripada kenyataan. Akibatnya, media sosial menjadi ruang yang dipenuhi gambaran kehidupan yang tampak sempurna. Kondisi ini menyebabkan pengguna sulit membedakan antara realitas yang sebenarnya dengan realitas yang telah dikonstruksi.

Eksistensi diri di media sosial memiliki hubungan erat dengan terbentuknya hiperrealitas. Individu yang berusaha menunjukkan keberadaannya cenderung menampilkan sisi terbaik hidupnya untuk mendapatkan pengakuan sosial. Chou dan Edge (2012) menunjukkan bahwa pengguna media sosial sering menganggap kehidupan orang lain lebih bahagia dibandingkan dirinya sendiri. Hal ini terjadi karena paparan konten yang bersifat selektif dan cenderung positif. Semakin tinggi kebutuhan eksistensi, semakin besar kemungkinan individu membangun citra yang tidak sepenuhnya sesuai dengan realitas.

Hiperrealitas di media sosial dapat memberikan dampak signifikan terhadap kondisi psikologis pengguna. Paparan terhadap kehidupan yang tampak ideal dapat memicu perasaan iri, rendah diri, dan tekanan sosial. Appel, Gerlach, dan Crusius (2016) menyatakan bahwa penggunaan media sosial berkaitan dengan meningkatnya perasaan envy pada pengguna. Selain itu, Lin et al. (2016) menemukan adanya hubungan antara intensitas penggunaan media sosial dengan gejala depresi. Oleh karena itu, hiperrealitas tidak hanya memengaruhi persepsi sosial, tetapi juga kesehatan mental individu.

Metode Penelitian

Unit analisis dalam penelitian ini adalah individu, yaitu pengguna media sosial yang aktif menggunakan platform digital seperti Instagram, TikTok, Facebook, X/Twitter dan media sosial lainnya. Fokus penelitian diarahkan pada perilaku pengguna dalam memanfaatkan media sosial sebagai sarana eksistensi diri, membangun citra diri, serta menerima pengaruh hiperrealitas dari konten yang dilihat. Individu dipilih sebagai unit analisis karena fenomena tersebut terjadi secara langsung pada pengguna media sosial. Penelitian ini menekankan pada persepsi, pengalaman, dan kondisi psikologis responden setelah berinteraksi di ruang digital. Dengan demikian, individu menjadi unit analisis yang paling sesuai dalam penelitian ini.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei deskriptif dan eksplanatif. Pendekatan kuantitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan mengukur hubungan antar variabel secara objektif melalui data berbentuk angka. Desain survei digunakan karena memungkinkan peneliti memperoleh data dari sejumlah responden dalam waktu relatif singkat melalui penyebaran kuesioner. Selain itu, penelitian ini juga didukung dengan wawancara sebagai data pelengkap untuk memperkuat pemahaman terhadap jawaban responden. Pendekatan ini dipilih agar penelitian tidak hanya menghasilkan data statistik, tetapi juga memperoleh gambaran nyata mengenai pengalaman pengguna media sosial aktif.

Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung dari responden, yaitu pengguna media sosial aktif, melalui penyebaran kuesioner dan wawancara. Responden dipilih berdasarkan kriteria tertentu, seperti aktif menggunakan media sosial dan rutin berinteraksi di dalamnya. Data yang dikumpulkan mencakup perilaku unggahan konten, pencarian pengakuan sosial, persepsi terhadap kehidupan orang lain, serta dampak psikologis yang dirasakan. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari buku, jurnal ilmiah, artikel, dan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan media sosial, eksistensi diri, dan hiperrealitas. Data sekunder digunakan sebagai landasan teori dan pendukung hasil penelitian.

Teknik pengumpulan data dilakukan secara berkelompok bersama tim peneliti melalui penyebaran kuesioner dan wawancara kepada pengguna media sosial aktif. Kuesioner disusun menggunakan skala likert untuk mengukur tingkat persetujuan responden terhadap setiap pernyataan penelitian. Skala tersebut memudahkan responden memberikan penilaian secara bertingkat sesuai pengalaman mereka. Penyebaran kuesioner dilakukan secara langsung maupun melalui media daring agar menjangkau responden lebih luas. Selain itu, wawancara dilakukan kepada beberapa responden untuk menggali informasi lebih mendalam mengenai alasan, pengalaman, dan pandangan mereka terkait penggunaan media sosial. Dengan kombinasi kedua teknik tersebut, data yang diperoleh menjadi lebih lengkap dan akurat.

Data yang telah terkumpul dianalisis melalui beberapa tahapan, yaitu editing, coding, tabulasi, dan interpretasi data. Jawaban dari kuesioner diubah ke dalam bentuk angka sesuai skala linier yang digunakan, kemudian dihitung untuk mengetahui kecenderungan jawaban responden. Selanjutnya dilakukan analisis deskriptif untuk menggambarkan karakteristik responden serta tingkat eksistensi diri dan hiperrealitas di media sosial. Data hasil wawancara digunakan sebagai pendukung untuk menjelaskan temuan kuantitatif yang diperoleh. Setelah itu, dilakukan analisis hubungan antarvariabel menggunakan uji statistik yang sesuai, seperti korelasi atau regresi sederhana. Hasil analisis digunakan untuk menjawab rumusan masalah serta mengetahui pengaruh hiperrealitas media sosial terhadap persepsi sosial dan kondisi psikologis pengguna.

Result

a. Eksistensi Diri melalui Aktivitas Unggahan di Media Sosial

Berdasarkan hasil kuesioner dan wawancara terhadap responden, ditemukan bahwa sekitar 66% aktif secara rutin mengunggah aktivitas sehari-hari seperti foto, video, maupun fitur story. Aktivitas tersebut dilakukan sebagai bentuk menunjukkan keberadaan diri di ruang digital. Beberapa responden mengungkapkan bahwa mereka merasa kurang terlihat atau kurang diakui apabila jarang melakukan unggahan. Selain itu, responden cenderung memilih konten yang dianggap menarik dan bernilai positif untuk dibagikan kepada publik. Salah satu responden menyatakan, “Kalau jarang posting, rasanya seperti hilang dari pergaulan di media sosial,” sementara responden lain mengatakan, “Yang di-upload biasanya yang bagus-bagus saja supaya terlihat menarik”.

Data tersebut menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai media aktualisasi diri. Pengguna berupaya mempertahankan eksistensi dengan cara terus memproduksi konten yang dapat menarik perhatian orang lain. Dari hasil analisis, ditemukan beberapa kecenderungan, yaitu adanya konsistensi dalam mengunggah konten sebagai bentuk eksistensi diri, kecenderungan menyeleksi pengalaman terbaik untuk ditampilkan, dominasi konten yang menonjolkan sisi positif kehidupan, serta keterkaitan antara frekuensi unggahan dengan kebutuhan akan pengakuan sosial.

Temuan ini mengindikasikan bahwa aktivitas unggahan di media sosial telah mengalami pergeseran makna, dari sekadar berbagi informasi menjadi sarana membangun citra diri. Dalam perspektif hiperrealitas, fenomena ini menunjukkan bahwa realitas yang ditampilkan di media sosial bukan sepenuhnya representasi kehidupan nyata, melainkan hasil konstruksi yang telah disaring dan dimodifikasi agar tampak lebih ideal. Dengan demikian, eksistensi diri di media sosial berkontribusi terhadap terbentuknya realitas semu yang lebih menonjolkan kesempurnaan dibandingkan kondisi sebenarnya.

b. Pengaruh Respons Sosial terhadap Persepsi Diri

Berdasarkan hasil kuesioner dan wawancara, ditemukan bahwa sekitar 66% responden menyatakan bahwa respon sosial seperti jumlah like, komentar, dan pengikut memiliki pengaruh signifikan terhadap persepsi diri pengguna media sosial. Sebagian besar responden mengaku merasa senang dan percaya diri ketika unggahan mereka mendapatkan banyak respons positif. Sebaliknya, ketika respons yang diterima rendah, muncul perasaan kecewa, kurang percaya diri, bahkan keinginan untuk menghapus unggahan tersebut. Beberapa responden juga menyatakan bahwa mereka cenderung membandingkan jumlah interaksi yang diperoleh dengan pengguna lain. Salah satu responden mengungkapkan, “Kalau like sedikit, jadi mikir kontennya kurang bagus,” sementara responden lain mengatakan, “Kadang jadi bandingkan dengan orang lain yang lebih banyak followers dan like.”

Data tersebut menunjukkan bahwa respons sosial di media sosial berfungsi sebagai bentuk validasi terhadap diri pengguna. Tingkat penerimaan sosial diukur melalui angka-angka yang terlihat, sehingga memengaruhi cara individu menilai dirinya sendiri. Dari hasil analisis, ditemukan beberapa kecenderungan, yaitu adanya ketergantungan terhadap respons sosial sebagai ukuran penerimaan diri, munculnya perasaan tidak percaya diri ketika respons rendah, kecenderungan membandingkan diri dengan pengguna lain, serta adanya dorongan untuk menyesuaikan konten agar mendapatkan respons yang lebih tinggi.

Temuan ini mengindikasikan bahwa media sosial tidak hanya membentuk citra diri, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis pengguna. Dalam konteks hiperrealitas, respons sosial memperkuat realitas semu yang terbentuk, karena pengguna semakin terdorong untuk menampilkan kehidupan yang sesuai dengan ekspektasi publik. Dengan demikian, interaksi digital tidak lagi bersifat netral, melainkan menjadi mekanisme yang memperkuat konstruksi realitas ideal di media sosial.

c. Terbentuknya Hiperrealitas dalam Persepsi Kehidupan Sosial

Berdasarkan data yang diperoleh, ditemukan bahwa sekitar 61% responden memandang kehidupan yang ditampilkan di media sosial sebagai sesuatu yang lebih ideal dibandingkan kehidupan nyata. Sementara sekitar 59% responden mengaku sering melihat konten yang menunjukkan kebahagiaan, kesuksesan, dan gaya hidup menarik, sehingga menimbulkan persepsi bahwa kehidupan orang lain lebih baik. Kondisi ini mendorong munculnya perasaan iri, tekanan sosial, serta kecenderungan membandingkan diri dengan standar yang ada di media sosial. Salah satu responden menyatakan, “Kadang merasa hidup orang lain lebih sempurna,” sementara responden lain mengatakan, “Sering jadi bandingkan diri sendiri dengan apa yang dilihat di media sosial.”

Data tersebut menunjukkan bahwa media sosial membentuk persepsi pengguna terhadap realitas sosial. Kehidupan yang ditampilkan cenderung dipersepsikan sebagai representasi nyata, meskipun sebenarnya telah melalui proses seleksi dan konstruksi. Dari hasil analisis, ditemukan beberapa kecenderungan, yaitu dominasi konten yang menampilkan kehidupan ideal, munculnya persepsi bahwa standar hidup di media sosial adalah ukuran umum, meningkatnya kecenderungan membandingkan diri, serta munculnya dampak psikologis seperti iri hati dan tekanan sosial.

Temuan ini memperkuat adanya fenomena hiperrealitas, di mana batas antara realitas dan representasi menjadi kabur. Media sosial menghadirkan realitas semu yang tampak lebih nyata dan lebih menarik dibandingkan kehidupan sebenarnya. Akibatnya, pengguna tidak hanya mengonsumsi realitas tersebut, tetapi juga menjadikannya sebagai acuan dalam menilai diri dan kehidupan sosial.

Discussion

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara eksistensi diri di media sosial dengan terbentuknya hiperrealitas serta dampaknya terhadap kondisi psikologis pengguna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengguna secara aktif mengunggah konten sebagai bentuk eksistensi diri, cenderung menampilkan sisi terbaik kehidupan, serta dipengaruhi oleh respons sosial seperti like dan komentar. Selain itu, ditemukan bahwa media sosial membentuk persepsi kehidupan yang lebih ideal, sehingga memunculkan kecenderungan membandingkan diri dan tekanan sosial. Dengan demikian, eksistensi diri di media sosial terbukti berkontribusi terhadap terbentuknya hiperrealitas dalam kehidupan pengguna.

Hubungan antara eksistensi diri dan hiperrealitas terjadi karena adanya kebutuhan individu untuk memperoleh pengakuan sosial di ruang digital. Media sosial menyediakan mekanisme berupa respons instan seperti like dan komentar yang menjadi indikator penerimaan sosial. Kondisi ini mendorong pengguna untuk menyesuaikan konten yang diunggah agar sesuai dengan ekspektasi publik. Akibatnya, individu lebih memilih menampilkan versi ideal dari dirinya dibandingkan kondisi nyata. Proses ini secara berulang membentuk realitas yang telah dikonstruksi, sehingga hiperrealitas muncul sebagai hasil interaksi antara kebutuhan eksistensi dan sistem media sosial itu sendiri.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa media sosial berperan dalam membentuk citra diri dan meningkatkan kebutuhan akan pengakuan sosial. Namun, penelitian ini memiliki perbedaan dengan studi sebelumnya karena tidak hanya menyoroti aspek perilaku atau psikologis secara terpisah, tetapi juga menghubungkannya secara langsung dengan konsep hiperrealitas. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi baru dengan menunjukkan bahwa eksistensi diri dan hiperrealitas merupakan dua fenomena yang saling berkaitan dalam membentuk pengalaman digital pengguna

Secara makna, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi ruang produksi realitas baru yang tidak sepenuhnya mencerminkan kehidupan nyata. Dalam konteks sosial, fenomena ini menggambarkan adanya pergeseran nilai, di mana pengakuan digital menjadi lebih penting dibandingkan interaksi langsung. Dalam konteks ideologis, media sosial merepresentasikan budaya modern yang menekankan pada citra, popularitas, dan pencitraan diri. Dengan demikian, hiperrealitas bukan hanya fenomena individual, tetapi juga bagian dari konstruksi sosial yang lebih luas di era digital.

Implikasi dari hasil penelitian ini menunjukkan adanya fungsi dan disfungsi media sosial. Di satu sisi, media sosial berfungsi sebagai sarana ekspresi diri dan komunikasi. Namun di sisi lain, media sosial juga menimbulkan disfungsi berupa tekanan sosial, rasa tidak percaya diri, serta kecenderungan membandingkan diri secara berlebihan. Kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan psikologis pengguna, terutama pada generasi muda yang lebih aktif di media sosial.

Berdasarkan hasil penelitian, diperlukan upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menggunakan media sosial secara bijak. Edukasi mengenai literasi digital perlu ditingkatkan agar pengguna mampu memahami bahwa tidak semua konten di media sosial mencerminkan realitas yang sebenarnya. Selain itu, pengguna diharapkan dapat lebih selektif dalam mengonsumsi konten serta tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya acuan dalam menilai diri. Bagi

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa eksistensi diri di media sosial memiliki keterkaitan yang kuat dengan terbentuknya hiperrealitas dalam kehidupan pengguna. Temuan terpenting dari penelitian ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga ruang konstruksi realitas yang telah dimodifikasi menjadi lebih ideal. Pengguna cenderung menampilkan sisi terbaik kehidupannya melalui unggahan, serta menjadikan respons sosial seperti like dan komentar sebagai indikator penerimaan diri. Kondisi ini pada akhirnya membentuk persepsi bahwa kehidupan di media sosial tampak lebih sempurna dibandingkan realitas yang sebenarnya. Hikmah yang dapat diambil dari penelitian ini adalah pentingnya kesadaran kritis dalam menggunakan media sosial, bahwa apa yang ditampilkan di ruang digital tidak selalu merepresentasikan kondisi nyata, sehingga pengguna perlu lebih bijak dalam menilai diri maupun orang lain.

Penelitian ini memiliki kekuatan dalam memberikan kontribusi keilmuan, khususnya dalam kajian komunikasi digital. Kontribusi tersebut terletak pada penggabungan dua konsep utama, yaitu eksistensi diri dan hiperrealitas, yang sebelumnya sering dikaji secara terpisah. Selain itu, penelitian ini juga memberikan sumbangan data empiris mengenai perilaku pengguna media sosial dalam membangun citra diri serta dampaknya terhadap kondisi psikologis. Pendekatan yang digunakan, yaitu kombinasi antara data kuantitatif dan wawancara, memungkinkan penelitian ini menghadirkan gambaran yang lebih komprehensif. Lebih lanjut, penelitian ini membuka peluang munculnya pertanyaan baru terkait bagaimana media sosial membentuk realitas sosial serta bagaimana pengguna memaknai identitas dirinya di era digital.

Namun demikian, penelitian ini juga memiliki keterbatasan. Pertama, jumlah responden yang terbatas menyebabkan hasil penelitian belum dapat digeneralisasikan secara luas. Kedua, penelitian ini lebih berfokus pada persepsi dan pengalaman pengguna, sehingga belum menggali secara mendalam aspek perilaku jangka panjang maupun dampak psikologis secara klinis. Ketiga, penggunaan metode survei memiliki keterbatasan dalam menangkap kompleksitas fenomena hiperrealitas yang bersifat dinamis dan kontekstual. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya diharapkan dapat menggunakan pendekatan yang lebih mendalam, seperti studi longitudinal atau metode kualitatif yang lebih eksploratif, serta melibatkan jumlah responden yang lebih besar dan beragam agar menghasilkan temuan yang lebih komprehensif.

Daftar Pustaka

Appel, H., Gerlach, A. L., & Crusius, J. (2016). The interplay between Facebook use, social comparison, envy, and depression. Current Opinion in Psychology, 9, 44–49.

Baudrillard, J. (1983). Simulations. New York: Semiotext(e).

Chou, H. T. G., & Edge, N. (2012). “They are happier and having better lives than I am”: The impact of using Facebook on perceptions of others’ lives. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 15(2), 117–121.

Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2), 117–140.

Goffman, E. (1959). The presentation of self in everyday life. New York: Doubleday.

Huang, C. (2020). A meta-analysis of the problematic social media use and mental health. International Journal of Social Psychiatry, 66(1), 12–22.

Keles, B., McCrae, N., & Grealish, A. (2020). A systematic review: The influence of social media on depression, anxiety, and psychological distress in adolescents. International Journal of Adolescence and Youth, 25(1), 79–93.

Leary, M. R. (1996). Self-presentation: Impression management and interpersonal behavior. Boulder, CO: Westview Press.

Lin, L. Y., Sidani, J. E., Shensa, A., Radovic, A., Miller, E., Colditz, J. B., & Primack, B. A. (2016). Association between social media use and depression among U.S. young adults. Depression and Anxiety, 33(4), 323–331.

Pratama, A. R. (2021). Penggunaan media sosial dan pembentukan citra diri pada generasi muda. Jurnal Ilmu Komunikasi, 19(1), 75–86.

Putri, A. F., & Amalia, D. (2019). Pengaruh penggunaan media sosial terhadap kepercayaan diri remaja. Jurnal Komunikasi, 13(2), 121–130.

Sari, N., & Basri, M. (2020). Dampak media sosial terhadap perilaku perbandingan sosial pada remaja. Jurnal Psikologi, 16(1), 45–53.

Twenge, J. M., & Campbell, W. K. (2019). Media use is linked to lower psychological well-being: Evidence from three datasets. Psychiatric Quarterly, 90(2), 311–331.

Valkenburg, P. M., Peter, J., & Schouten, A. P. (2006). Friend networking sites and their relationship to adolescents’ well-being and social self-esteem. CyberPsychology & Behavior, 9(5), 584–590.

Verduyn, P., Ybarra, O., Résibois, M., Jonides, J., & Kross, E. (2017). Do social network sites enhance or undermine well-being? A critical review. Social Issues and Policy Review, 11(1), 274–302. (*****)

Penulis : Qurrota A’yun (tengah) , Rina Angrraini (kanan) , Silviyani (kiri) Mahasiswa IAIN Sorong Prodi Komunikasi Penyiaran Islam semester VI. 

 

 

Komentar