Tingkatkan Pemberdayaan dan Kemandirian Penyandang Disabilitas, Pertuni PBD Gelar Pelatihan Literasi Digital hingga Daily Life Style

SORONG, PBD – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Papua Barat Daya menyelenggarakan pelatihan terhadap puluhan penyandang disabilitas, dipusatkan bertempat di Sekolah Luar Biasa (SLB) Inpres 73 Malaingkedi, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Senin (27/6/23).

Diketahui, pelatihan ini diselenggarakan sebagai upaya komitmen DPD Pertuni Papua Barat Daya bersama stakeholder lainya dalam rangka pemberdayaan terhadap penyandang disabilitas di Provinsi termuda di Indonesia ini.

Pelatihan pemberdayaan disabilitas itu mengajuk terhadap program peningkatan kemandirian dan kualitas hidup bagi tunanetra melalui pelatihan Literasi Digital, Orientasi dan Mobilitas serta Daily Life Style. Program ini didanai dan didukung langsung oleh Pemerintah Australia melalui program Alumni Grant Scheme (AGS) yang diadministrasikan oleh Australia Award Indonesia (AAI).

Ketua DPD Pertuni Papua Barat Daya, Fandy Dawenan mengatakan bahwa, penyandang disabilitas di Provinsi termuda di Indonesia ini membutuhkan tindakan nyata sebagai bentuk affirmative action dalam rangka membebaskan penyandang disabilitas dari ketidakberdayaan.

“Program ini memberikan bekal berharga bagi penyandang disabilitas agar menjalani kehidupan mereka lebih mandiri, senantiasa berpartisipasi aktif ditengah-tengah masyarakat, hingga mengurangi bentuk ketergantungan kepada orang lain,” kata Ketua DPD Pertuni Papua Barat Daya, Fandy Dawenan, Senin (27/6/5).

Tak hanya itu, disebutkannya bahwa, melalui pelatihan Literasi Digital, Orientasi dan Mobilitas serta Daily Life Style ini kedepannya menjadi modal besar dan peluang emas bagi penyandang disabilitas untuk menjalani rentetan kehidupannya.

“Melalui program ini, penyandang disabilitas khususnya tunanetra dapat mempelajari keterampilan yang diberikan dan juga mendapatkan alat bantu, berupa tongkat hingga smartphone,” tuturnya.

Pelatihan ini diinginkannya sebagai upaya penyandang disabilitas guna mencapai tingkat kemandirian yang optimal, sehingga menjalani kehidupan semandiri mungkin.

“Keterampilan saja tidak cukup membantu orang dengan keterbatasan penglihatan untuk menjelajahi lingkungan mereka, terutama saat diluar rumah maupun ditempat umum lainnya. Mereka membutuhkan keterampilan lainnya berupa orientasi dan mobilitas, ini sangat penting bagi orang dengan keterbatasan penglihatan, sebab mereka belajar bergerak dengan aman dan efektif, serta membentuk kemandirian di lingkungan mereka,” jelas lulusan S2 Flinders University Australia itu.

Dibeberkannya bahwa, diera modern saat ini, menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan percepatan teknologi haruslah seimbang dan sama-sama bertumbuh pesat, sehingga pemahaman terkait teknologi secara intensif harus diberikan juga kepada penyandang disabilitas. Hal ini dinilainya bahwa, teknologi dapat membantu penyandang untuk melakukan banyak hal, yang sebelumnya belum dilakukan mereka dan memungkinkan orang dengan keterbatasan penglihatan misalnya dapat menggunakan komputer, smartphone hingga perangkat elektronik lainnya secara lebih mandiri.

“Teknologi ini menjadi pengganti mata mereka (orang dengan keterbatasan penglihatan), saat ini penyandang disabilitas tunanetra di Kota Sorong dan Kabupaten Sorong hingga daerah lainnya memiliki kemampuan sangat minim dan terbatas dalam hal kehidupan sehari-hari, keterampilan orientasi dan literasi digital, ini disebabkan kurangnya kesempatan bagi mereka untuk mempelajari keterampilan tersebut. Melalui program ini, penyandang disabilitas dapat mempelajari keterampilan hingga mendapatkan alat bantu, seperti tongkat dan smartphone, karena ilmu saja tidak cukup tanpa didukung oleh alat-alat yang bisa digunakan untuk mengimplementasikan ilmu yang telah dipelajari, sehingga hasil yang dicapai lebih optimal dan berhasil,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Papua Barat Daya, Beatrix Msiren mengapresiasi atas terselenggaranya pelatihan ini. Dirinya berharap bahwa, pelatihan ini kedepannya dapat meningkatkan pemberdayaan dan kemandirian dari segi literasi digital, orientasi dan mobilitas serta daily life style bagi penyandang disabilitas di Provinsi Papua Barat Daya.

Selanjutnya, disampaikannya bahwa, pihaknya dari Dinas Sosial dan PPPA Papua Barat Daya akan terus bersinergi, berkolaborasi dan berkomitmen bersama dengan Pertuni Papua Barat Daya dalam upaya peningkatan dari segi kualitas kehidupan tunanetra kedepannya.

“Saya berharap besar agar semuanya mengikuti program ini dengan penuh perhatian dan dapat diimplementasikan dalam kehidupan seharian, demi membentuk kemandirian dalam kehidupan,” harapnya. (Jharu)

___

Komentar