Pertamina Patra Niaga Temukan Trik Mafia Minyak, Beri Ultimatum SPBU

SORONG, – Tindakan tegas dan terukur dilakukan jajaran Pertamina Patra Niaga dengan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah SPBU di Kota Sorong, Papua Barat, Rabu (25/5/22).

Manager Sales Retail Pertamina Patra Niaga Sorong, I Made Mega turun langsung mengecek antrian panjang yang terjadi belakangan ini di wilayah Sorong.

___

Dari hasil temuan di sejumlah SPBU yang masih menjual BBM bersubsidi yaitu SPBU 81.98401 Sorpus, SPBU 84.98402 Hansen dan SPBU 84.98405 jalan baru, dimana ditemukan adanya modifikasi tangki oleh pemilik kendaraan roda dua dan pembelian berulang oleh oknum pengendara dengan cara mengantri dari satu SPBU ke SPBU lainnya yang menjual Jenis BBM Tertentu (JBT) Solar.

Terlihat beberapa kali Made memberikan penjelasan kepada sejumlah warga yang saat itu mengetahui bahwa Ia merupakan orang Pertamina dan memberikan arahan serta tindakan tegas kepada operator SPBU.

“Kalian Pertamina tidak bisa melarang kami membeli Bensin berulang disini dan untuk dijual lagi, kami ini sangat terbantu dengan penjual eceran karena malas antri begini,” ujar salah satu warga.

“Tetap tidak bisa Bapak, karena ada peraturan bahwa dilarang keras memperjual belikan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dijual di SPBU dan itu bisa dipidana. Kasihan masyarakat yang benar-benar membutuhkan harus lama mengantri,” terang Made disambut persetujuan warga lainnya yang benar-benar membutuhkan BBM untuk keperluan sehari-hari.

Sementara itu, salah satu supir truk, Diman mengaku setiap hari harus mengantri di SPBU karena Solar yang dia isi cukup untuk pulang pergi Sorong – Teminabuan.

“Saya antri dari jam 8 pagi untuk isi full tank 80 liter kemudian ke Teminabuan untuk kerja. Habis itu Sekitar jam 2 pagi Saya kembali dari Teminabuan ke Sorong dan mengantri lagi untuk isi bahan bakar,” ujar Diman.

salah satu contoh motor yang disulap dengan tangki modifikasi, diduga untuk keperluan tertentu/oke

Usai melakukan Sidak, Made membenarkan bahwa ada peningkatan kebutuhan pengguna layanan dari masyarakat terlihat dari peningkatan volume kendaraan serta adanya oknum mafia yang dilakukan oleh oknum tertentu di sejumlah SPBU yang masih menjual BBM bersubsidi. Namun pihaknya tidak mempunyai kewenangan untuk menindak oknum-oknum tersebut.

“Tugas dan fungsi kami hanya sebatas monitoring di areal SPBU termasuk memberikan sosialisasi dan pemahaman bahwa sesuai Perpres nomor 191 tahun 2014 dilarang memperjual belikan BBM dari SPBU. Sehingga Kami hanya bisa meminta bantuan dari stakeholder terkait dalam rangka pengawasan di luar SPBU. Sedangkan didalam SPBU, Saya menjamin bahwa penyaluran dari depot ke SPBU sudah sesuai dan stok bahan bakar masih mencukupi hingga 10 hari kedepan,” ujar Made.

Ia menambahkan bahwa perlu ada sinergi antara pemerintah daerah, pihak keamanan serta Pertamina dalam menindak oknum-oknum yang menyalahgunakan JBT di SPBU untuk kepentingan tertentu.

“Saya juga berharap dan mengimbau kepada masyarakat, mohon bantuannya bekerja sama untuk dapat membeli BBM sesuai dengan kebutuhan bukan untuk dijual kembali karena itu sudah melanggar undang-undang dan peraturan,” harap Made.

Ia juga dengan tegas akan memberikan sanksi kepada SPBU yang tidak serius menangani permasalahan antrian dengan temuan pembelian berulang.

“Jika Saya temukan ada pengisian dua kali dari satu kendaraan, maka kami akan memberikan tegas kepada operator dan pengawas SPBU. Bahkan sanksi terberatnya kami hentikan penyaluran BBM ke SPBU. Kami harap pengelola tidak hanya mengejar keuntungan tetapi bisa memberikan rasa nyaman bagi pengguna kendaraan,” tegas Made.

Antrian panjang di SPBU ini terlihat untuk pengisian JBT jenis Solar dan Pertalite. Sedangkan antrian pada Pertamax, Dexlite dan Pertamina Dex terlihat lowong.

Antrian panjang di jalur pertalite juga menurut Made, dapat disebabkan migrasi pengguna Pertamax ke Pertalite sejak harga Pertamax naik pada awal bulan Mei lalu. (Oke)

___ ___

Komentar