Pendeta Diarak Menggunakan Perahu Tandai Perayaan Pekabaran Injil Di Sorong

SORONG, – Anak-anak sekolah minggu, sejak pukul 08.00 WIT satu persatu datang dengan penuh suka cita menyambut hari bersejarah orang Papua. Ya, hari ini, Sabtu (5/2/22) adalah hari peringatan Pekabaran Injil masuk Papua dan selalu diperingati dengan suka cita oleh semua umat kristiani.

Menggunakan pakaian khas Papua berupa tali rumbia dan ikat kepala khas Papua, anak-anak sekolah minggu jemaat Oikumene Bahtera Injil Aspol Remu, ini menjemput pendeta bersama majelis. Pendeta pun diminta memasuki lingkaran daun janur kelapa yang dibuat menyerupai perahu. Perahu yang berisi pendeta didalamnya ini, seakan-akan menceritakan bagaimana awal mula misionaris asalJerman Carl Wilhelm Ottouw dan Johann Gottlob Geissler dari Badan Misi Gossner Jerman, yang berangkat dari pelabuhan Rotterdam Belanda, dengan menggunakan Kapal yang bernama Abeltasman menuju Papua.

Perjalanan perahu yang diawaki pendeta ternyata dikelilingi oleh sejumlah orang yang tidak menyukai kehadiran mereka. Menggunakan parang dan panah, mereka mencoba menghalau pendeta menuju mimbar utama. Hal inilah yang digambarkan bahwa saat itu, orang Papua masih hidup dalam kegelapan, mereka marah dan tidak menerima keberadaan injil.

Dengan Tema sentral yang diturunkan oleh Sinode GKI di tanah papua”KUASA YESUS KRISTUS YANG TELAH MEMBEBASKAN KITA”. Momen perayaan ini ditandai dengan orasi tentang kedua rasul yakni otto dan geisler yang berlayar menuju pulau mansinam pada (5/2/1855),untuk memberitakan Injil kepada seluruh orang papua yang pada saat itu masih dalam kegelapan.

Pendeta Allan Sosir/Meywa

Pendeta Allan Sosir Ketua PHMJ GKI Oikumene Bahtera Injil Aspol dalam khotbanya saat memimpin ibadah mengatakan bahwa dahulu Papua dalam kegelapan namun sekarang Papua telah menuju jalan yang terang dengan peradaban yang semakin baik setelah adanya injil di Papua.

“Sehingga lewat perayaan Hut PI ke-167 tahun ini diharapkan kepada seluruh anggota jemaat lebih tingkatkan iman percaya, bahwa Yesus benar-benar mengasihi kita yang mendiami tanah papua,” ungkap Allan.

Sementara itu, Ketua Panita Hari-Hari Besar Gerejawi, Nelce Lidyakeda mengucapkan syukur bahwa dengan keterbatasan waktu, panitia dapat memberikan pelayanan yang baik dengan menyajikan orasi perjuangan Otto dan Geisler dalam membawa Injil di tanah Papua.

“Kami hanya diberikanwaktu cuma 5 hari kerja, namun dengan iman semua boleh berjalan, dimana pekabaran injil dengan orasi sekalipun tantangan apapun tidak bisa membentengi injil Tuhan yang telah menerangi tanah Papua ini. Kami bersyukur Tuhan masih menerangi tanah Papua terbukti sampai hari ini. Kami yakin bahwa bekerja dengan keras maka Tuhan berperkara buat kami,”terang Nelce.

Ia pun berharap pelayanan kedepan, melalui injil yang telah membuka mata rohani semua umat, maka tahun ini dengan rahmat Tuhan akan terus melayani dalam waktu kedepan dan ada lagi tanda heran satu dengan tanda heran lainnya. (Meywa/Oke)

 

___ __ ___

Komentar