Misi Menerangi Papua di Wilayah 3T, Tak Semudah Itu Ferguzo !!

Deskiniel pun menjelaskan mengenai rencana masuknya listrik bertenaga surya kerumah mereka. Selain tidak bising, penggunaan listrik melalui PLN juga dianggap lebih murah, lebih sehat karena tidak menghasilkan asap seperti genset dan tentunya sangat ramah terhadap lingkungan.

“Bapak PLN, nanti kalau misalnya kami terlambat bayar listrik apakah, listrik kami disegel ya,” tanya salah satu warga ditengah sosialisasi.

___ ___ ___ ___

“Bapak Ibu, Perlu saya sampaikan bahwa meteran milik PLN adalah meteran prabayar. Jadi kalau tidak diisi pulsa terlebih dahulu maka tidak akan ada listriknya. Jadi tidak perlu disegel karena kalau Kwhnya sudah habis maka listrik tidak bisa dipakai. Kemudian pulsa listrik ini beda dengan pulsa telepon. Kalau isi 50.000 maka terisi 50.000 tapi dia akan dirubah menjadi satuan Kwh. Jadi kalau isi pulsa 50.000, nanti terisi di meteran 36.000 sekian. Jadi bukan PLN tipu-tipu tapi demikian perhitungan meterannya,” ujar Deski.

Bendahara Kampung, Ronald Watem sangat senang dan bersyukur karena Presiden RI, Joko Widodo membuat program yang mensejahterakan masyarakat Papua melalui PLN. Mereka menggunakan dana kampung sekitar Rp300 juta untuk menerangi 102 rumah warga.

“Kami masih menunggu dana kampung yang cair tahun ini. Sekitar 102 rumah akan dipasang meteran dan dapat menikmati listrik dari PLN,” ujar Watem.

Ditambahkan olehnya bahwa keseharian warga di wilayah Terpencil, Terdepan dan Terbelakang (3T) termasuk kampungnya mengandalkan mesin genset untuk penerangan. Sekitar 6 jam bisa menghabiskan minimal 3 liter bahan bakar minyak. Dimana BBM jenis solar maupun bensin disana dihargai Rp10.000 perliternya.

___ __

Komentar