MENYEMPURNAKAN INDONESIA***

Indonesia sebagai sebuah bangsa merdeka dan berdaulat yang merupakan salah satu negara terluas didunia, juga sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak. Indonesia juga adalah negara yang memiliki sumber daya alam yang sangat kaya. Dengan modal ini harusnya Indonesia adalah bangsa yang besar di mata bangsa yang lain, juga lebih unggul dan lebih sempurna dari kondisi saat ini.

Kesempurnaan Indonesia meski tak berujung dan tak berwujud, haruslah tergambar jelas dalam benak masing-masing manusia Indonesia.  Dan kewajiban untuk menyempurnakan Indonesia ini adalah kewajiban bersama. Bukan kewaiiban satu orang, bukan juga kewajiban satu kelompok dan juga bukan kewajiban satu instansi. Salah satu elemen bangsa yang turut bertanggung jawab atas kesenpurnaan Indonesia adalah generasi muda karena generasi muda adalah pewaris bangsa yang akan melanjutkan estafet perjalanan bangsa Indonesia dimasa yang akan datang. Semua elemen bangsa harus terlibat dalam proyek menyempurnakan Indonesia. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai upaya untuk menyempurnakan Indonesia.

___ ___ ___ ___

Berkarya tanpa henti

Karya adalah hasil dari pengetahuan dan pengalaman yang hidup. Pengetahuan dan pengalaman-pengalaman yang hiduplah yang mampu mewujudkan karya. Semangat berkarya untuk Indonesia akan terus tumbuh didalam diri seseorang yang memiliki dua hal: Pertama, mencintai Indonesia tanpa syarat. Bagi mereka yang mencintai Indonesia tanpa syarat takkan pernah puas dengan karyanya yang telah dipersembahkan untuk negeri tercinta. Kedua, big dream untuk Indonesia. Mimpi besar untuk Indonesia akan memberikan energy yang luar biasa untuk terus hidup dengan karya. 

Dalam islam, kita dituntut untuk berkarya atau beramal dengan ihsan sehingga akan menghasilkan ahsanu amala. Yaitu berkarya atau beramal dengan berupaya semaksimal mungkin untuk menghadirkan karya terbaik. Allah swt berfirman dalam QS. Al Mulk ayat 1 dan 2 yang artinya : Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, Dan Dia itu Maha kuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu yang lebih baik amalnya.Dan Dia Maha perkasa, Maha pengampun. Dan Nabi Muhammad Saw bersabda : Beribadahlah kepada Allah seakan-akan kamu melihat Allah, jika kamu tidak melihatnya maka sesungguhnya Dia yang melihatmu. 

Capaian-capaian bangsa ini dalam banyak aspek kehidupan sangat banyak dan harus kita syukuri. Meskipun kita juga menyadari bahwa capaian itu belum memuaskan jika dibandingkan dengan SDM dan SDA yang tersedia. SDM Indonesia tidaklah tertinggal jika dibandingkan dengan SDM negara lain. Hanya saja menurut saya kita belum bisa memaksimalkan potensi SDM Indonesia yang ada untuk kemajuan Indonesia. Apalagi SDA kita yang teramat kaya ini, harusnya menjadikan  Indonesia sebagai negara yang tidak lagi punya anak terlantar, anak putus sekolah, pengangguran, fakir miskin, busung lapar, kurang gizi dan sederet masalah yang terkait dengan kemiskinan. 

Beberapa contoh anak bangsa yang terus berkarya adalah : pertama, siapa yang tidak mengenal Prof. Dr. Ing. H. B. J. Habibie, presiden Indonesia ke 3. Laki-laki yang dikenal dengan Mr. Crack karena teorinya yang sangat terkenal dan bermanfaat di dunia penerbangan. Seluruh dunia membanggakan beliau. Kedua, Prof. Dr. Khoirul Anwar yang menemukan 4G untuk meningkatkan kualitas penggunaan internet. Ketiga, dalam bidang seni music, yaitu Agnes Mo, seorang perempuan yang berkarir sebagai sorang musisi sejak kecil hingga saat ini menembus pasar internasional.

Semua karya anak bangsa diatas telah menyempurnakan Indonesia dimata dunia. Jika semua anak bangsa terus berkarya dan terus berupaya untuk menyempurnakan karyanya maka akan membuat Indonesia jauh lebih sempurna dari waktu kewaktu.

Mendidik Generasi

Kondisi Indonesia pada awal kemerdekaan, masih termasuk negara tertinggal atau negara miskin. Kemudian dalam proses perjalanannya bangsa Indonesia terus melakukan pembenahan dalam berbagai lini kehidupan. Termasuk dalam bidang pendidikan. Dalam data Badan pusat statistic disebutkan bahwa tingkat buta huruf masyarakat Indonesia di awal kemerdekaan adalah 90% dan terus mengalami penurunan hingga pada tahun 2020 berada pada angka 1,71%. 

Ini membuktikam bahwa mendidik generasi akan berdampak pada kemajuan bangsa. Bangsa yang berhasil mendidik generasinya menjadi generasi terbaik disetiap zamannya akan terus mengalami kesempurnaan dari waktu ke waktu.

Tujuan utama atau muara pendidikan adalah membentuk manusia berbudaya. Karena itu budaya yang maju identic dengan masyarakatnya yang yang memiliki budaya tinggi pula. Menurut Ki Hajar Dewantara, kebudayaan adalah semua hasil cipta (akal), rasa (hati/jiwa) dan karsa (perbuatan jasmani) manusia. Jadi manusia yang berbudaya adalah manusia yang akalnya, hati/jiwanya dan perbuatannya berdiri diatas nilai-nilai yang luhur.

Upaya menyempurnakan Indonesia melalui jalur pendidikan adalah cara yang sangat efektif. Lihatlah semua peradaban yang ada sepanjang sejarah dunia, semuanya dimulai dari pendidikan yang hebat. 

Setiap generasi akan menghadapi tantangan sesuai dengan zamannya. Tantangan dari zaman ke zaman tentu akan berbeda. Tantangan di zaman batu pasti berbeda dengan tantangan di era industry, era teknologi dan era disrupsi. Generasi hari ini harus dipersiapkan untuk hidup sesuai dengan zamannya. Semua generasi tua hari ini mau tidak mau harus menjadi futurolog. Mereka tidak hanya membekali generasi muda dengan apa yang dibutuhkan saat sekarang saja, tapi justru apa yang dibutuhkan di masa mendatang. 

Menurut Ir, Abdul Kadir Baraja bahwa ada beberapa hal penting yang harus dimiliki oleh generasi muda sebagai bekal menuju masa depan gemilang yaitu,  pertama, karakter atau akhlak mulia. Sesuatu yang tetap dan terus dibutuhkan hingga kapan pun. Tidak pernah berubah. Kedua, kemampuan dan kemauan belajar. Kita sebisa mungkin menanamkan kepada generasi muda kemampuan untuk belajar. Mampu mandiri untuk mempelajari kompetensi dirinya.kemampuan inilah yang kadang absen dn akhirnya menghasilkan generasi yang seolah tidak mampu mengikuti perubahan zaman. 

Sementara itu menurut Anis Matta dalam bukunya Gelombang Ketiga Indonesia, ada empat pola piker yang tepat untuk dikembangkan untuk membawa Indonesia menjadi lebih baik. Pertama, Arsitektural. Pola pikir yang harus dimiliki adalah kesadaran bahwa manusia adalah subjek dan pelaku utamadalam peradaban. Sebagai pelaku utama, maka manusia bertanggung jawab untuk membuat sebuah grand design yang akan menjadi platform untuk segala aktivitas kehidupan. Kemampuan imaji dan design ini mirip dengan kemampuan seorang arsitek yang harus mengimajinasikandan membayangkan desain dari sebuah bangunan yang asalnya tidak ada menjadi ada. Kedua, Fungsional. Setelah proses imaji dan desain, langkah selanjutnya adalah mewujudkannya. Proses ini bergantung pada kemampuan kita untuk menilik segala yang ada disekitar kita sebagai kesempatan dan sumber daya yang dapat difungsikan untuk mewujudkan desain kita. Kita selalu mencari fungsi dan faedah dari apapun yang ada disekitar kita. Ketiga, Eksperimental. Tingginya kompleksitas dan perubahan yang sangat cepat berimplikasi sulitnya melakukan prediksi dan betapa setiap solusi yang ditemukan akan memiliki waktu kadaluarsa yang sangat pendek. Akibatnya, mau tidak mau kita harus memiliki pola pikir yang selalu terbuka dan berani mengambil resiko. Berani mengakui keterbatasan intuisi dan mengakui setiap solusi sifatnya temporer. Itulah pola pikir eksperimental. Keempat, Kreatif. Adakalanya jalan buntu tetap menghadang meskipun segala daya upaya telah dikerahkan. Pada situasi seperti ini, hal yang akan menyelamatkan kita adalah kreativitas. Kretaivitas adalah kemampuan untuk memulai ketika yang lainnya berhenti. Pada era konektivitas tinggi ini kita perlu mendefinisikan ulang arti kreativitas. Biasanya kreativitas dianggap sebagai hasil dari intuisi jenius dari individu yang terisolasi. Dalam gelombang ketiga, kreativitas adalah kemampuan menggabungkan hal-hal yang sudah ada sebelumnya menjadi sebuah entitas baru. ***

(***) Penulis adalah Kepala SMAIT Peradaban Al Izzah Sorong, Abdul Rauf, S.Pd.

  

___ __

Komentar