Menuju Penayangan 20 Juni, MN KAHMI Gelar Special Screening Film LAFRAN di Sorong

SORONG, PBD – Setelah keberhasilan film “So Hoek Gie” yang menggugah, kini satu lagi film tentang tokoh aktivis pemuda akan naik ke bioskop.

Bedanya, film ini mengangkat aktivis pemuda Islam, Lafran Pane. Film ini merupakan karya kolaborasi Majelis Nasional Korps Alumni HMI (MN KAHMI), Reborn Initiative dan Radepa Studio.

___

Guna mempromosikan film ini, MN Kahmi menggelar penayangan khusus atau special screening di berbagai titik, dari Sumatra hingga Papua.

Penayangan khusus ini juga digelar di Kota Sorong, Papua Barat Daya, Senin (27/05).

Nobar Film Lafran di Sorong Papua Barat Daya

Dalam special screening film LAFRAN di Sorong tersebut, hadir tak kurang dari 1.000 penonton yang merupakan keluarga besar HMI dan KAHMI. Bahkan, Korpres MN KAHMI Ahmad Doli Kurnia Tandjung dan Korpres MN FORHATI Wa Ode Nurhayati juga turut mengikuti acara.

Ditemui terpisah, Eksekutif Produser Film LAFRAN Muhammad Arief Rosyid Hasan mengatakan, film LAFRAN dapat menumbuhkan semangat juang pemuda dan membangkitkan rasa nasionalisme di era globalisasi.

“Film ini diharapkan dapat membangkitkan kembali semangat juang pemuda seperti Lafran Pane. Semangat untuk memperjuangkan kemerdekaan, keadilan, dan persatuan bangsa,” kata Arief.

Arief juga menyebut film LAFRAN juga dapat menginspirasi generasi muda untuk terus mengejar mimpi mereka dan tidak mudah menyerah.

Selain itu, film LAFRAN kata Arief, diharapkan dapat memperkenalkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) kepada masyarakat luas. Sebuah organisasi yang telah banyak berkontribusi bagi kemajuan bangsa Indonesia.

“Masyarakat harus tahu bahwa banyak anak muda di Indonesia menghadapi takdir yang tidak menguntungkan. Tetapi sejak ikut dalam perkaderan HMI banyak rekan seperjuangan berhasil menciptakan nasib yang lebih baik. Mereka bersama-sama membangun jejak sendiri, dan akhirnya, nasib yang awalnya sulit berubah menjadi sesuatu yang positif,” ucap Arief.

Lebih lanjut, Ketua Umum PB HMI periode 2013-2015 ini menyebut, sosok Lafran Pane adalah contoh nyata seorang pemuda yang mendedikasikan hidupnya untuk bangsa. Film ini kata Arief, juga dapat mengajarkan kepada generasi muda tentang arti dedikasi dan pengabdian.

“Kepahlawanan itu harus disampaikan ke publik. Yang kita angkat di sini dari sisi keteladanan yang bisa diajarkan oleh Lafran Pane kepada anak muda,” tutur aktivis asal Makassar ini.

Sementara, Korpres MN KAHMI Ahmad Doli Kurnia Tandjung berpesan, Film LAFRAN harus jadi inspirasi bagi generasi muda.

“Film Lafran ini bercerita tentang gagasan perjuangan pendiri HMI dan Pahlawan Nasional yakni Ayahanda Lafran Pane,” kata Doli Kurnia Tandjung di Kota Sorong.

Film LAFRAN ini kata Doli, sekaligus memberikan pengetahuan baru ke penonton, bahwa HMI organisasi nasional dan bukan bagian dari teroris atau ekstrimis. Sebab kata dia, kehadiran HMI ini membawa gagasan bahwa ini merupakan wadah yang mengembangkan nilai keislaman.

“Film Lafran ini dibuat selama tujuh tahun dan melibatkan empat generasi termasuk Bang Akbar Tanjung hingga saya dan Dinda Arief Rosyid. Film ini bukan hanya baik ke keluarga HMI, tapi kepada Bangsa Indonesia,” kata Doli.

Usai Special Screening di Kota Sorong, kegiatan serupa akan digelar pula di Kota Jayapura, Papua pada Jumat 31 Mei 2024.

Film LAFRAN akan resmi tayang di berbagai bioskop di Indonesia pada 20 Juni 2024 mendatang.

Tentang Film LAFRAN

Film LAFRAN adalah film biopik tentang pendiri organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pahlawan Nasional, Lafran Pane (Dimas Anggara), ini diawali sejak Lafran kecil (Nabil Lungguna), yang cerdas namun kurang disiplin.

Lafran tumbuh menjadi pemberontak dan pindah ke pelbagai sekolah, bahkan sempat menjadi petinju jalanan. Sementara abangnya, pujangga Sanusi Pane (Aryo Wahab), dan Armijn Pane (Alfie Afandi), mendorong Lafran agar energinya disalurkan dalam bentuk karya.

Saat pendudukan Jepang, Lafran sempat ditahan karena membela para peternak sapi. Ia kemudian dibebaskan setelah ayahnya menebus dengan menyerahkan bus Sibual-buali kepada tentara Jepang. Semasa kuliah di Jogjakarta, Lafran gelisah melihat kaum muslim terpelajar yang terlalu larut dalam pemikiran sekular, dan melupakan ibadah.

Ia pun mendirikan HMI sebagai wadah untuk berjuang dalam bingkai keislaman dan keindonesiaan serta nonpolitik. Didukung oleh kekasihnya, Dewi (Lala Karmela), ia pun merelakan HMI dipimpin mahasiswa yang bukan dari Sekolah Tinggi Islam (STI), sebelum kemudian meminta MS Mintaredja (Firandika) dari UGM untuk memimpin HMI.

Ucapan “Saya Lillahi Taala untuk Indonesia…” dari Lafran Pane, sosok yang memiliki daya magis kuat, kini menjadi perekat kuat bagi organisasi yang dibentuknya, Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI). Sejak didirikan pada 5 Februari 1947, HMI telah menjelma menjadi organisasi mahasiswa Islam yang memberikan kontribusi besar dalam memperkuat fondasi keislaman dan keindonesiaan.

Selama 76 tahun, HMI telah menjadi penjaga dua nilai agung, yaitu nilai keumatan dan kebangsaan. Ini membuka jalan bagi terwujudnya Islam yang rahmatan lil ‘alamin, sebuah Islam yang ramah, toleran, dan menghargai persatuan serta perdamaian. (**)

___ ___

Komentar