oleh

Masih Banyak Media dan Pemerintah ‘Belum’ Peduli Pada Disabilitas

 

SORONG, – Memperingati Hari jadinya yang ke 33 tahun, Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) menggelar webinar dengan tema Media dan disabilitas. Ketua LPDS, Hendrayana dalam keterangannya pada webinar Jumat (23/7/21) bahwa tema disabilitas dipilih mengingat jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 30,38 juta jiwa atau 14,2 persen dari penduduk Indonesia.

“Jika selama ini, penyandang disabilitas belum banyak mendapatkan perhatian, maka kini saatnya Media massa mengangkat dan memberdayakan mereka melalui tulisan-tulisan yang penuh simpati dan empati serta menginspirasi,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, sejumlah nara sumber dihadirkan oleh LPDS, yaitu Wili Yatno, SME Chanel Specialist dari Galeri Indonesia Blibli.com. Willi menguraikan mengenai dukungan usaha startup tersebut dalam mendukung disabilitas berdaya dalam dunia wirausaha dan bagaimana Blibli.com memasarkan produk disabilitas dengan aplikasi ramah bagi disabilitas.

Nara sumber lainnya yaitu Cheta Nilawati, wartawati Tempo itu menceritakan kisahnya saat menjadi disabilitas Netra sejak tahun 2016. Ia menuturkan, bahwa selama bekerja di Tempo, perusahaan tempatnya bekerja memberikan kemudahan dan fasilitas saat melakukan peliputan. Jejaring yang Ia miliki sejak menjadi jurnalis pada tahun 2006 menjadi unggulan bagi dirinya, namun jika harus turun lapangan, maka dari perusahaan tempatnya bekerja menyediakan fasilitas pendamping.

Ia pun menuturkan dengan lugas bahwa masih banyak media yang salah memframing disabilitas dalam pemberitaan. Ia mengumpamakan cyborg sebagai pandangan media dalam pemberitaan selama ini.

“Selama Ini, Media menggunakan inspirasi berlebihan, misalnya orang buta yang bisa naik bus adalah sesuatu hal yang istimewa. Padahal biasa saja, semua bisa dilakukan, disabilitas sama dengan masyarakat umum lainnya. Atau menempatkan disabilitas sebagai pahlawan yang berlebihan. Sebaiknya media lebih banyak mengangkat mengenai inspirasi biasa, layaknya menulis sebuah berita dengan melihat nilai yang penting. Bukan hanya figure namun inspirasi dibaliknya,” terang Cheta.

Sementara itu, Selly Marbun, Ketua Umum Paralympic Committee of Indonesia mengatakan bahwa sejauh ini masih ada 9 daerah yang belum mendukung disabilitas dalam bidang olah raga. Baik berupa fasilitas maupun sarana prasarana lainnya. Ia berharap dengan kegiatan Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVI di Papua pada tahun 2021, semakin meningkatkan atlet Paralimpiade khususnya di wilayah Timur Indonesia.

Nara sumber lainnya, Nicky Clara, disabilitas fisik yang merupakan pendiri berdayabareng.com berharap pemerintah daerah dapat melindungi disabilitas dengan peraturan daerah yang ramah terhadap disabilitas termasuk sarana prasarana bagi disabilitas. Melalui berdayabareng.com, Nicky mengajak disabilitas berdaya dengan meningkatkan kemampuan atau skill agar disabilitas dapat lebih mandiri dan berdaya.

Diskusi Media dan disabilitas ini menuai perhatian dari sejumlah jurnalis dari Sabang sampai Merauke. Karena Informasi dan pengetahuan disabilitas masih kurang. Apalagi ruang khusus untuk menulis terkait disabilitas, pengembangan ide penulisan juga masih kurang. Sehingga diharapkan, media massa lebih banyak memberikan ruang khusus dalam penulisan terkait disabilitas.

Selain diskusi terkait Disabilitas, pada kesmepatan tersebut juga diluncurkan empat buah buku jurnalistik yang berisi karya para pengajar dan alumni LPDS. Diharapkan buku-buku tersebut menjadi bacaan berharga bagi para jurnalis yang ingin meningkatkan kompetensinya dan khalayak yang berminat pada bidang jurnalistik.

Selain itu, juga diumumkan pemenang lomba karya tulis dengan tema disabilitas dan media massa dengan topik, menggali potensi, mengukir prestasi. (Oke)

Komentar