Kisah Haru Kerinduan Warga Maybrat untuk Kembali Pulang Kampung

Haruskah kita beranjak ke kota
Yang penuh dengan tanya?

Lebih baik di sini
Rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa Semuanya ada di sini
Rumah kita

MAYBRAT, PBD –¬† Pagi itu, Kamis 10 Agustus 2023 sekitar pukul 08.00 WIT, dua Jurnalis yang standby di Maybrat bergegas menuju kantor DPRD untuk ikut bersama kunjungan kerja dari anggota DPRD Dapil 1 Aifat dengan tim Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Maybrat.

Dua Jurnalis hebat itu Saya selaku penulis dari Sorongnews.com dan rekan saya dari Tribunnews.com. Kami berdua memang sangat solid untuk terus memberitakan soal pembangunan di Maybrat.

Setelah menunggu berkisar dua jam lamanya, Kami bersama para wakil rakyat ini bergegas naik mobil melakukan perjalanan tujuan Kampung Ayata, Distrik Aifat Timur Tengah.

Perjalanan menuju Kampung Ayata ditempuh sekitar 4 jam lewat daratan. Mobil yang dipakai pun khusus, harus mobil Toyota Hilux 4X4 Double Gardan karena ada sebagian medan jalan yang cukup ekstrim, tanjakan maupun turunan, ada juga yang berlubang bahkan lumpur setinggi betis orang dewasa.

Tujuan Kampung Ayata melalui jalan utama masuk dari Susumuk. Perjalan dari Susumuk hingga di Kamundan itu, jalan masih cukup bagus dan tergolong ramai karena warga eksodus sudah perlahan kembali ke kampung halaman.

Sepanjang jalan utama dari Susumuk ke Kampung Ayata kami harus melewati 5 Pos Satgas Yonif 133/YS dan satu Pos Brimob Ops Petik Bintang Polda Papua Barat. Kelima Pos itu, Pos Sori, Pos Sabah, Pos Tahsimara, Pos Fankario, Pos Kamat, dan Pos Brimob Ops Petik Bintang Polda Papua Barat di Kampung Ayata, Aifat Timur Tengah.

Setiap Pos kami harus melaporkan diri untuk dicek identitas dan arah tujuan sehingga harus berhenti dan memakan waktu kurang lima menit di setiap pos. Sesampainya di Kamundan, rombongan DPRD, Dinas PU dan Jurnalis berhenti sejenak dan laporkan diri di Satgas.

Terlihat, warga pun naik mobil untuk ikut ke Kamat dan Ayata. Mereka adalah warga yang tempat tinggalnya ada di Kamat maupun Ayata, lalu beriring-iringan masuk menuju ke dua kampung tersebut.

Sebelum sampai di Kampung Ayata, kami harus melewati Kampung Kamat. Perjalanan dari Kamundan, menuju Ayata kami pun kembali merasakan medan jalan yanga ekstrim dimana sebagian jalan sudah ditutupi rumput dan pepohonan.

Jalan begitu sempit, belum lagi ada yang berlubang. Warga sebagian menyebutkan bahwa jalanan Kamundan ke Kamat lanjut ke Ayata masih kategori rawan, sudah jarang dilewati bahkan tidak ada yang lewat akibat peristiwa penyerangan Pos TNI di Kampung Kisor pada 02 September 2021 lalu.

Dalam perjalanan menuju Kampung Kamat nampak sangat sepi, begitupun menuju ke Ayata. Warga eksodus di dua kampung ini belum ada yang kembali ke kampung halaman. Yang ada cuma Satgas Yonis 133/YS di Kamat dan Pos Brimod Ops Petik Bintang Polda Papua Barat di Kampung Ayata.

Setelah menempuh perjalanan 4 jam, kamipun sampai di Kampung Ayata. Warga yang tadinya ikut untuk melihat keadaan di kampung, singgah melihat rumahnya yang sudah lama ditinggalkan bertahun-tahun. Terlihat  mimik wajah mereka yang menahan kesedihan hingga tak lagi dapat membendung air mata karena kerinduan yang mendalam.

Seorang mama tidak jauh dari Pos Satgas Yonif 133/YS Ayata mendekati rumahnya dan berkeliling sambil menangis. Hati Saya pun ikut sedih dan berkata di dalam hati, “ya Tuhan kasihan melihat mereka, belum bisa kumpul bersama keluarga di kampung”. Saya langsung turut sedih merasakan apa yang dirasakan mama dan orang-orang di kampung tersebut.

“Kalau dibilang sedih, sangat sedih, tentu kita sangat merindukan untuk bisa kembali di kampung. Kita rindu bisa kumpul bersama keluarga seperti biasa,” ujar Thomas Aitrem anggota DPRK Maybrat yang rumahnya juga berada di Kampung Ayata.

Dengan wajah sedih, Thomas cerita bahwa keluarganya tinggalkan kampung halaman dan rumah akibat kejadian di Kisor kurang lebih dua tahun enam bulan. Ia bisa melihat kampung dan rumah dengan ada kunjungan ini.

“Saya pribadi dan keluarga meninggalkan kampung dan rumah ini sudah dua tahun lebih lamanya. Keluarga sekarang ada di Sorong, pastinya kita sangat rindu. Sejak kejadian itu, hari ini baru saya bisa melihat rumah,” tutupnya.

Kebisuan pun menemani perjalanan Kami selanjutnya, hanya tersisa doa panjang dalam hati akan kerinduan untuk pulang ke kampung halaman melakukan aktivitas harian, ke kebun, ke hutan dan ke sekolah dengan rasa aman dan nyaman.

Sebuah lirik lagu pun mengingatkan Saya akan kerinduan. Lagu rumah kita ciptaan Jusuf Antono Djojo.

Hanya bilik bambu tempat tinggal kita
Tanpa hiasan, tanpa lukisan
Beratap jerami, beralaskan tanah
Namun, semua ini punya kita
Memang semua ini milik kita sendiri

Hanya alang-alang pagar rumah kita
Tanpa anyelir, tanpa melati
Hanya bunga bakung tumbuh di halaman

Namun, semua itu punya kita
Memang semua itu milik kita

Haruskah kita beranjak ke kota
Yang penuh dengan tanya?

Lebih baik di sini
Rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa Semuanya ada di sini
Rumah kita

Kerinduan untuk pulang ke kampung halaman akan menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah daerah dan masyarakat setempat dalam bahu membahu, bekerjasama mewujudkan Maybrat yang aman dan nyaman sebagai rumah tinggal.

Apalagi Pemda terus mengejar ketertinggalan dengan membuka akses infrastruktur jalan antar kampung agar mobilisasi massa juga mudah.

Dalam hati Saya pun meminta sekiranya Tuhan selalu memberikan berkat bagi pemimpin daerah dan wakil rakyat yang peduli kepada masyarakat di bawah.

(Penulis: Tulus Manullang merupakan wartawan sorongnews.com yang berada di Kabupaten Maybrat)

___

Komentar