Kasus Stunting Meroket, Dinas P2KBP3A Gelar FGD

KABUPATEN SORONG, – Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) kabupaten Sorong, menyelenggarakan Forum Group Discussion (FGD) dalam upaya menganalisis penyebab kasus stunting yang terjadi di kabupaten Sorong, bertempat di Aimas Hotel, kabupaten Sorong, Papua Barat, Jumat (9/9/22).

Dimana, pelaksanaan FGD ini sebagai rangkaian dari upaya Dinas P2KBP3A bersama komponen lainnya dalam melaksanakan percepatan penurunan stunting di daerah ini.

___ ___ ___ ___

Dalam sambutannya, Kepala Dinas P2KBP3A Kabupaten Sorong, Feri Fatem, menyebutkan bahwa kegiatan audit kasus stunting ditahun 2022 ini, menjadi rangkaian upaya pemerintahan guna mempercepat penurunan stunting di wilayah ini.

“Kami menyusun berbagai langkah teknis dengan melakukan pembentukan TPPS di tingkat kabupaten, distrik, kelurahan hingga kampung, pembentukan tim pendamping keluarga serta pembentukan tim audit stunting,” ungkapnya.

Dirinya berharap, melalui FGD ini sehingga kedepannya pihaknya dapat memperoleh data yang akurat dan tepat. Kendati demikian, pihaknya dapat melakukan berupa tindakan dan penanganan serius guna menekan serta menurunkan stunting di daerah ini.

Sementara itu, Kepala BKKBN Perwakilan Papua Barat, melalui Sekretaris BKKBN Perwakilan Papua Barat, Yahya Rumbino, mengatakan bahwa angka kasus stunting yang terjadi saat ini berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 menyentuh presentase sebesar 24,41%.

Dimana menurutnya, terkait presentase angka prevalensi di Papua Barat berada di atas angka nasional yakni menyentuh presentase sebesar 26,2%.

“Untuk kasus stunting di wilayah provinsi Papua Barat ini menyentuh angka sebanyak 26.819 anak,” terangnya.

Di tahun sebelumnya, tahun 2021, BKKBN mendapatkan mandat dari Presiden Republik Indonesia sebagai Tim Pelaksana Percepatan Penurunan Stunting (PPPS), sehingga hal ini menjadi salah satu indikator dan tantangan besar yang dihadapi BKKBN agar bekerja keras dalam upaya menurunkan presentase kasus stunting, dimana sebelumnya menjadi isu nasional.

“Terkait angka kasus stunting menyentuh rata-rata yakni sebesar 2,5% dari tiap tahunnya, 24,1% di tahun 2020 sampai menjadi 14% pada tahun 2024,” sebutnya.

Berdasarkan pantauan Sorongnews.com, pelaksanan FGD diikuti sebayak 50 orang peserta terdiri dari tim pakar, meliputi Dinas Kesehatan kabupaten Sorong, Dinas P2KBP3A kabupaten Sorong, dokter spesialis, ahli gizi, kepala Puskesmas, Bidan, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis Baperlitbang, hingga komponen sentral lainnya. (Jharu)

___ __

Komentar