oleh

Ini Kata Pakar Soal Kekerasan Pada Jurnalis Perempuan

Sorong, – Sebagai wujud kepedulian terhadap jurnalis perempuan, Kedutaan besar Amerika Serikat yang berada di Jakarta menyelenggarakan diskusi virtual dalam rangka merayakan International Day for The Elimination of Violence Against Women 2020, Rabu (25/11/20).

Diskusi yang mengangkat tema “Glowing Challenges For Women in Journalism”, menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan, seperti Ketua Divisi Gender, Anak dan Kelompok Marjinal Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Endah Lismartini, Ketua Forum Jurnalis Perempuan Indonesia Papua Barat, Olha Mulalinda, Pengajar Komunikasi dan Jurnalistik Univeritas Gadjah Mada, Gilang Parahita, serta Jurnalis VOA Whasington DC Virginia Gunawan.

Jurnalis perempuan di banyak negara, termasuk Indonesia mengalami kekerasan berbasis gender. Hal ini tidak terbatas kekerasan fisik, tetapi juga mencakup penindasan, ketidaksetaraan di tempat kerja, serangan online, serta prilaku yang sangat menentang kemampuan perempuan untuk maju dalam profesi mereka.

Kekerasan terhadap jurnalis perempuan yang masih terjadi dibanyak negara, tidak hanya menyebabkan trauma bagi jurnalis itu sendiri, akan tetapi juga dapat menyebabkan ketidaknyamanan dalam bekerja, sehingga akan mempengaruhi profesionalitasnya.

Akademisi Universitas Gadjah Mada, Gilang Parahita mengatakan jurnalis yang mengalami kekerasaan atau pembullyan akan merasa enggan untuk melakukan peliputan pada suatu situs yang sama, sehingga jika itu terjadi maka akan ada efek membungkan didalamnya.

“efek pembullyan oleh netizen yang sering kita sebut dengan censorship, biasanya setelah jurnalis mengalami kekerasan semacam itu akan merasa enggan untuk meliput situs yang sama, satu tempat yang sama, isu yang sama serta orang yang sama, jadi akhirnya ada efek membungkam”, terangnya.

Komentar