Hujat Pekerja Pers, Wartawan Sorong Boikot Aksi Demo GMNI

SORONG, – Pekerja Pers yang sejak awal mengawal aksi longmarch dan demonstrasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sorong dibuat marah oleh sejumlah orator Mahasiswa berjas merah saat melakukan orasinya di depan kantor Terminal bahan Bakar Pengisian BBM (TPBBU) Sorong, Papua Barat, Senin (8/11/21).

Salah satu orator termasuk koordinator lapangan menghujat kinerja pers dan menantang pekerja pers saat melakukan orasi, hal tersebut membuat pekerja pers memboikot dan tidak meliput aksi tersebut.

___

“Media penyebar berita hoax terkait BBM,media-media ini cari makan dari berita,” pernyataan kontroversi oknum mahasiswa itu membuat jurnalis yang meliput marah dan meminta klarifikasi maksud pernyataan tersebut namun malah ditantang oleh Korlap aksi.

Menanggapi pernyataan kontroversi tersebut, Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Papua Barat, Chandry Suripatty mengecam dan menyesalkan pernyataan sejumlah oknum mahasiswa yang telah menyepelekan tugas media dalam melaksanakan tugas jurnalistiknya.

“Intinya mereka sebut dinamakan koreksi kami terima, tetapi itu adalah bentuk tuduhan serius yang tak mendasar terhadap rekan-rekan media di Sorong yang telah bekerja maksimal dan tetap memberikan edukasi kepada masyarakat,” kata Ketua IJTI Papua Barat.

Lebih lanjut, selain sesalkan atas pernyataan tersebut, Ketua IJTI Papua Barat akan terus berkoordinasi dengan seluruh organisasi media di Papua Barat untuk bersinergi dalam mengambil langkah hukum terkait pernyataan kontroversi yang menyudutkan pekerjaan pers.

Disambungnya, peran pers tentunya untuk menjaga kedamaian dan ketertiban masyarakat.

Menurut Chandry, isu pemberitaan kelangkaan BBM yang terjadi di Sorong yang menyebutkan pemberitaan hoax diakibatkan pemberitaan media oleh oknum mahasiswa adalah rilis pernyataan dari keterangan pers dari pihak Pertamina dan media membuka ruang kepada siapa saja untuk memberikan pernyataan pers.

Ditambahkannya, disini objeknya Pertamina, Pertamina wajib memberikan keterangan pers terkait isu kelangkaan BBM dan apapun pihaknya sampaikan kepada pers, pers siap mempublikasikan Kepada masyarakat secara jelas.

“Kami sesalkan, kami minta dalam waktu 1×24 jam, jika mereka tidak meminta maaf dengan pernyataan tersebut, kami akan berkoordinasi dengan mengambil langkah hukum, karena tuduhan ini serius yang dinyatakan oleh oknum mahasiswa kepada kami,” tegas Chandry.

Wartawan termasuk mahasiswa semua mitra dan mampu berkolaborasi dalam membangun daerah.

Sementara itu, Ketua Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Papua Barat, Fauzia Muhammad mengecam dan mengutuk tindakan oknum mahasiswa yang menghujat pekerja pers saat menyuarakan aspirasi mereka. Fauzia mengatakan bahwa media berusaha memberikan rasa aman dan nyaman kepada warga agar tidak termakan isu Hoax di media sosial.

“Mereka menuduh bahwa wartawan buat berita bohong tidak ada kelangkaan sedangkan ada antrian di SPBU, ini yang Saya harapkan mahasiswa saat turun demo memiliki data dan pemahaman mengenai isu yang dibawakan. Dalam pemberitaan kami tidak menyebutkan kelangkaan BBM, karena stok BBM ada. Isu kelangkaan di media sosial ini yang membuat orang panik hingga akhirnya berbondong-bondong mengantri di SPBU hingga dimanfaatkan oknum tidak bertanggung jawab. Saya berharap demonstrasi mahasiswa itu datang membawa data dan solusi bukan malah menghujat pekerja pers,” harap Fauzia.

Sementara itu, Pemred Sorongnews.com, Olha Irianti pun turut menyesalkan kejadian tersebut dan meminta kepada GMNI Sorong untuk lebih menghargai profesi Jurnalis, karena profesi jurnalis dilindungi Undang-Undang khusus Pers. Menghalangi dan menghambat pekerja jurnalis pun dapat dipidana.

“Ini kali kedua aksi GMNI Sorong tidak simpatik dan malah menghujat pekerja Pers, Saya berharap teman-teman organisasi Pers bisa bergandengan tangan agar oknum mahasiswa tersebut dan organisasinya mengevaluasi dan diberikan efek jera agar tidak terulang dikemudian hari,” ujar Olha. (Jharu)

___ __ ___ ___

Komentar