Gereja Efata Malanu Bawa Pulang Piala Bergilir Pesparawi II PAM Klasis GKI Sorong

SORONG,- Ajang Pesparawi II PAM Klasis GKI Sorong kini telah berakhir setelah satu Minggu digelar, Kompetisi antar Gereja ini sebagai wadah dimana anak-anak muda GKI menyalurkan bakat demi hormat dan kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.

Ketua Panitia Pesparawi II PAM Klasis GKI Sorong, Ryan Silambi, saat ditemui dalam acara penutupan didalam Gedung Gereja Maranatha Remu Kota Sorong, Jumat (04/11/22), menuturkan bahwa setelah berakhirnya event besar ini kiranya tidak terhenti sampai disini namun akan terus berkelanjutan.

“Kami sebagai Panitia pelaksana berharap kepengurusan selanjutnya itu boleh melakukan event-event yang secara berkelanjutan di tahun 2023 mendatang, tahun ini panitia dengan jumlah peserta 31 terbagi dari beberapa Kategori Solo Putra Putri Kategori Vokal Group dan Paduan Suara dengan total keseluruhan uang pembina yang disiapkan sebesar 40 Juta Rupiah,” ucap Ketua Panitia Pesparawi II PAM Klasis GKI Sorong.

Ia berharap kepada seluruh pemenang di dalam lomba Pesparawi tahun ini agar tetap bersemangat untuk berlatih di masing-masing jemaat supaya apapun yang dilakukan secara klasis bahkan independen boleh mempertahankan juara ini.

Ditempat yang sama, Dina Sahuburua selaku Pelatih sekaligus Pembina Paduan Suara Pam GKI Efata Malanu yang merupakan peraih piala bergilir Pesparawi II mengungkapkan rasa sukacita dan syukur sebab Ia tak menyangka kalau anak-anak binaannya bisa memboyong juara umum.

“Perasaan pasti sukacita dalam Tuhan artinya bisa mengakomodir bakat anak-anak muda jadi sebuah pelayanan karena kami Efata banyak sekali pemuda-pemudi bertalenta lewat paduan suara, bukan baru juga tapi sudah sering kemana-mana ikut kompetisi paduan suara ditambah lagi mereka ini generasi-generasi baru yang kita libatkan dalam semua kategori yang ditentukan Panitia,” tegas Dina.

Bebernya, walaupun memang kita merasa bahwa ini sebuah tantangan sebab persyaratannya cukup sulit dimulai dari semua lagu realitynya harus dibeli harus pakai cianis aransemennya juga harus dibuat dan diluar itu juga ada lagu yang di aransemen oleh anak-anak sendiri.

Jelasnya, proses latihan mereka butuh waktu selama dua bulan akan tetapi bagi anak-anak sendiri mereka tidak puas dengan apa yang didapat hari ini namun mereka terus meningkatkan prestasi tapi juga pelayanan kepada Tuhan.

“Saya sudah sering bilang buat mereka fokus melayani Tuhan itu hal yang paling penting soal hal yang lain nanti Tuhan yang akan berproses untuk mengaturnya, untuk mempertahankan juara umum ini kan bukan sesuatu yang mudah sebab meraih itu gampang tetapi mempertahankan ini sangat sulit,” katanya.

Sehingga Ia berharap, kedepannya harus anak-anak binaannya akan lebih baik lagi kalau bisa tetap mempertahankan juara umum, dan biarlah lewat apa yang diperoleh saat ini bukan semata-mata sebagai pujian diri ataw gereja akan tetapi hormat bagi Tuhan. (Mewa)

___

Komentar