Forum Lintas Suku Asli Papua Datangi Kepolisian, Minta Usut Tuntas Kasus Pertikaian

SORONG,- Forum lintas suku asli Papua mendatangi Polres Sorong Kota, meminta pihak Kepolisian usut tuntas kasus pertikaian antar dua kelompok, hingga berimbas pembakaran diskotek Doubel O pada Selasa dini hari (24/1/22) lalu.

Forum lintas suku asli Papua mendatangi Polres Sorong Kota, pasalnya pertikaian antar dua kelompok hingga berimbas pada 17 korban yang meninggal dunia akibat terbakar dan 1 orang meninggal akibat luka bacok, hal ini membuat warga Kota Sorong ketakutan hingga detik ini. Apalagi beredar isu-isu adanya serangan lanjutan oleh dua kelompok yang berseteru.

Hal inilah yang membuat forum lintas suku asli Papua mendatangi Polres Sorong Kota dan meminta agar pihak kepolisian bisa menyelesaikan kasus pertikaian tersebut dengan tuntas.

Kepala suku Biak Papua Barat sekaligus wakil I forum lintas suku asli Papua Hengky Wondak, mengucapkan banyak terima kasih terhadap pihak kepolisian serta warga Kota Sorong, terhadap upaya mereka dalam mengatasi pertikaian pada Selasa (24/1/22) lalu.

“kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Polri dan TNI dan warga Kota Sorong, sudah berupaya mengatasi pertikaian yang terjadi pada Selasa malam (24/1/22) lalu. Yang mengakibatkan 18 korban dalam arti meninggal secara sadis,” ucapnya kepada sejumlah awak media, Jumat (28/1/22).

Ia pun mengajak warga yang tinggal di tanah Malamoi ini untuk selalu menaati setiap hukum yang dibuat oleh pemerintah. Apalagi Negara Indonesia sendiri memiliki hukum seperti hukum agama, hukum positif dan hukum adat. Pasalnya tiga hukum tersebutlah yang menjadi landasan, agar setiap warga negara bisa menaati aturan tersebut.

Hengky mengatakan yang terjadi kemarin, merupakan sesuatu yang diluar dari dugaan dan dibawa kendali emosional dan merupakan suatu pelanggaran terbesar di Asia Tenggara.

“Hal ini terjadi pasti kita semua susah, karena mau ke pasar setengah mati tapi kalau kota aman kita damai,” terangnya.

Melihat kondisi Kota Sorong, kedepannya Hengky meminta terhadap siapapun mereka, baik kepala suku Papua, kepala suku non Papua untuk menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Papua.

“Kedepannya saya minta siapapun dia kepala suku Papua kah, kepala suku non Papua kah yang ada di atas tanah Moi ini bisa menggerakkan warganya agar tidak melakukan hal-hal seperti itu, kita hidup sama-sama bergandengan tangan. Tujuannya adalah bersama-sama membantu setiap program pemerintah,” terangnya.

Ia pun mengajak seluruh kepala suku Papua untuk bergandengan tangan dan jika kedepannya terdapat kelompok kelompok atau etnis tertentu yang bertikai atau membuat ricuh di tanah Moi ini. Secepatnya pihak kepolisian bisa mengambil tindakan.

“Jujur kita semua menyesal ketika semua ini terjadi, namun kami kembalikan kepada pemerintah dalam hal pihak kepolisian. Untuk mentutaskan masalah ini secara hukum siapapun dia,” ungkapnya.

Sementara wakil ketua forum lintas suku asli Papua Melkianus Osok sangat menyayangkan perbuatan pelaku pertikaian, menurutnya perbuatan tersebut telah memakan banyak korban hal tersebut membuat orang-orang merasa sedih terhadap 18 korban tersebut.

“Kami Forum lintas suku asli Papua meminta baik dari agama apapun, rambut keriting bahkan kulit hitam maupun sawo, etnis suku apapun saya merindukan Kota Sorong ini aman tentram,” ungkapnya.

Ia dengan tegas mengatakan kedepannya jika terdapat pertikaian maka dirinya tidak akan kompromi lagi, harus ikat bantal dan tikar untuk pulang ke daerah asal masing-masing.

Semua warga yang berdomisili ke Kota Sorong sambungnya, tentunya untuk mencari hidup dan makan. Jika terjadi pertikaian seperti ini menjadi suatu halangan bagi warga untuk mencari hidup.

“Mari kita sama-sama jaga kota ini, agar bisa cari makan dan hidup dengan damai,” pungkasnya. (Fatrab)

____

Komentar