Cerita Siswi MAN IC Sorong Peserta Program Pertukaran KL-YES Saat Ramadan di Amerika

AMERIKA SERIKAT, – Nama saya Denia Adennisa Mursalim. Saya berasal dari Fakfak, Papua Barat dan bersekolah di MAN Insan Cendekia Sorong, Papua Barat Daya.

Alhamdulillah, saya mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu peserta program pertukaran  Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (KL-YES) di Amerika Serikat yang diselenggarakan oleh Departemen Luar Negeri AS.

Saya tiba pada bulan Agustus 2023 lalu, jadi sudah sekitar 8 bulan saya disini. Saya
ditempatkan di Franklin, negara bagian Tennessee, bersama ibu angkat (host mother) di salah satu kompleks perumahan di Franklin.

Di program ini, saya juga mengikuti kegiatan belajar mengajar di Amerika. Saya bersekolah di Independence High School, sebuah sekolah yang besar dengan lebih dari 1,200 siswa. Saya menggunakan bis sekolah untuk pulang dan pergi, butuh waktu kurang lebih 50 menit dari rumah menuju sekolahku.

Ibu angkatku adalah seseorang dengan segudang cerita, ia adalah mantan diplomat dan mendiang suaminya adalah pilot angkatan udara di Amerika. Beliau sudah menginjakkan kaki di berbagai tempat di dunia, tapi tempat yang paling lama ia tinggali adalah Indonesia, beliau sangat suka Indonesia.

Saya merasa sangat beruntung karena kebetulan saya juga ingin bekerja di bidang diplomasi, jadi beliau sering menceritakan pengalaman-pengalaman nya. Ibu angkatku juga adalah orang yang lembut, ia sempat mengirim surat kepada orang tuaku di Indonesia untuk memastikan mereka jika saya baik baik saja, beliau dan keluarganya menganggap saya sebagai salah satu anggota keluarga mereka juga.

Ibu angkat Denia saat membantu menyiapkan menu berbuka puasa / doc : pribadi Denia

Di bulan Ramadan, sebagai umat Muslim, saya menjalankan ibadah puasa. Saat tiba di rumah di AS pada Agustus 2023 lalu, saya langsung mencari website atau aplikasi yang bisa membantuku menentukan kiblat. Saya menemukan aplikasi bernama “Athan” yang berarti adzan di bahasa Indonesia, dan aplikasi itulah yang saya pakai sampai sekarang.

Aplikasi tersebut mengirimkan notifikasi saat memasuki waktu sholat, dan pada bulan puasa, juga mengirimkan notifikasi sahur.

Waktu berpuasa disini tidak beda jauh dengan di Indonesia, saat saya membuat tulisan ini, Subuh dimulai jam 05.29 dan Maghrib pada pukul 19.06 waktu setempat.

Saya memasak makanan sahur di malam sebelumnya. Jadi, saat saya bangun, saya hanya perlu memanaskan makanan di “microwave.”

Saya biasanya memasak nasi, telur atau ayam. Untuk makanan berbuka/makan malam, saya biasanya membantu ibu angkatku menyiapkannya. Waktu makan malam kami jam 6 malam, jadi ibu angkatku makan terlebih dahulu. Pada waktu berbuka, saya ditemani ibu angkatku.

Saat memasuki waktu Isya, saya sholat Isya dan Tarawih di rumah. Masjid atau Islamic Center terdekat berada di Nashville, yang jaraknya sekitar 35 menit dengan kendaraan. Saya berencana melaksanakan sholat Idul Fitri di Nashville.

Ada juga satu atau dua orang siswa di sekolahku yang juga beragama Islam. Menurutku tantangan terbesar berpuasa disini adalah ketika di sekolah.

Sistem sekolah Amerika mengharuskan siswa-siswinya berpindah kelas setiap pelajaran, jadi saya lebih sering berjalan dan naik tangga disini. Saya juga dikelilingi oleh teman-teman yang tidak berpuasa. Banyak dari mereka yang penasaran kenapa saya berpuasa, tapi mereka menghargai pilihanku untuk berpuasa, sama halnya dengan ibu angkat dan keluarganya. Hal-hal ini adalah pengalaman yang berbeda dengan pengalaman Ramadanku di Indonesia.

Saya merindukan suasana Ramadan di Indonesia, kebersamaan, dan keramaiannya, tapi menghabiskan Ramadan di Amerika membuatku lebih fokus kepada makna Ramadhan itu sendiri, yaitu mendekatkan diri kepada Allah.

Saya sangat bersyukur kepada Allah yang telah memberikan saya kesempatan untuk merasakan Ramadan di Amerika, dan berbagi pengetahuan ku mengenai Ramadan ke orang-orang sekitarku. Pengalaman Ramadan kali ini sangat berkesan! (**/Oke)

___

Komentar