Casis TNI AD Asal Merauke Pemilik Sepatu Raksasa Gapai Impian, Banjir Ungkapan Haru

MERAUKE, PAPUA SELATAN – Filemon Basik-Basik menjadi salah satu calon siswa (casis) Sekolah Calon Tamtama (Secata) Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) 2024 yang namanya mencuat.

Hal itu dikarenakan siswa prajurit asal Salor Kampung, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan yang sedang menjalani pendidikan Tamtama di Bandung ini awalnya hanya memakai sepatu olahraga ket karena belum tersedia ukuran sepatu PDL nomor 52.

___

Namun tak berselang lama, Filemon Basik Basik kini sudah mendapatkan sepatu PDL raksasa sesuai ukuran kaki 52 cm dari lembaga pendidikan yang menaunginya hingga banjir ungkapan haru.

Seperti diungkapkan orangtua angkat Filemon Basik Basik di kota Merauke, Peltu Deni Zulkarnaen beserta istri, anak-anaknya dan keluarga besar Rajawali (club voli di Merauke).

“Kami sangat bangga, bahagia, terharu dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa telah memberikan masa depan yang cerah kepada anak kami Filemon Basik Basik. Telah resmi mengikuti pendidikan Secata TNI AD di Bandung dan sudah mendapatkan sepatu sesuai ukuran 52 cm,” ungkap Peltu Deni Zulkarnaen yang merupakan Anggota TNI Angkatan Udara (AU) Lanud Johanes Abraham Dimara kepada Sorongnews.com di Merauke, Minggu (5/5/24).

Dikatakan, Filemon yang memiliki tinggi badan 197 cm atau hampir 2 meter dan ukuran sepatu 52 cm telah menggapai impian. Semuanya tentu melalui proses dinamika yang luarbiasa.

Filemon mengikuti tes daerah Secata TNI AD di Korem 174/ATW Merauke. Kemudian, mengikuti tes pusat di Kodam XVII/Trikora di Jayapura hingga resmi mengikuti pendidikan di Bandung.

Selain tekad kuat putera Papua suku Marind (Merauke) untuk menjadi prajurit TNI AD itu juga berkat dukungan penuh dari Komandan beserta anggota Batalyon Infanteri (Yonif) 755/Ghupta Vira yang terus memberikan motivasi kepada generasi muda Salor Kampung, Merauke.

Selain itu, andil besar Peltu Deni dan keluarga yang sehari-sehari bersama, mendidik dan memotivasi Filemon Basik Basik.

“Saya selalu berpesan, Nak (Filemon, red) kamu harus sukses ditanahmu sendiri. Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung dengan kemampuan yang ada,” kenang Peltu Deni.

Ia juga mengenang masa-masa awal pertemuan dan penjemputan Filemon di Salor Kampung yang mendapat sambutan hangat dari keluarga besar hingga mau menyerahkan dengan ikhlas putera kebanggaan kepada Peltu Deni untuk dibina.

“Awalnya Filemon adalah anak didik yang mendapat perhatian serius dari Kepala SMA Negeri 1 Kurik, Pak Guru Lucky Liptiay. Keluarga kami niat untuk membantu, membina, dan mengarahkan. Kemudian, kami jemput, bertemu keluarga besar Filemon di Salor Kampung dan mereka mengikhlaskan,” bebernya.

“Kami bawa (Filemon, red) ke kota untuk jadi anak angkat. Pelan-pelan kami poles dengan menanamkan disiplin mulai dari bangun tidur, kerja, belajar, latihan olahraga, sampai mau tidur dan bangun lagi,” sambung Peltu Deni.

Kala itu, ucap pria Jamer asal Kumbe, Filemon masih kelas XII SMA Negeri 1 Kurik dan masih dalam situasi Covid-19 sehingga melaksanakan proses belajar jarak jauh dari kota secara online.

Sehari-hari sebagai anak angkat Peltu Deni, Filemon wajib bangun tidur pukul 05.15 WIT untuk berdoa sesuai kepercayaan masing-masing seperti anak kandung dan 4 orang angkat lainnya asal Wamena, Mappi, Tanimbar yang ada di kediaman.

Selanjutnya, mereka berbagi tugas menyelesaikan pekerjaan rumah serta wajib membersihkan kamar masing-masing dengan wangi dan rapi.

Kemudian sarapan, belajar, membantu pekerjaan dapur, makan siang, tidur siang dan wajib olahraga voli di lapangan mulai pukul 15.00 WIT. Selepas itu, Filemon mandi, makan malam dan istirahat. Setiap hari Minggu pagi, Filemon wajib ke gereja.

“Pola pembinaan karakter cukup panjang dan luarbiasa. Saya selalu tegas mendidik. Bahkan, ketika ketahuan merokok, saya hukum dia juga,” tegas Peltu Deni.

Menurutnya, selama ini Filemon tidak pernah mendapat bully hanya karena ukuran sepatu raksasa yang sulit dicari. Ketika sekolah pun, Filemon kadang memakai sandal bahkan juga biasa berjalan tanpa alas kaki.

Sejak dalam pembinaan Peltu Deni, Filemon telah mengoleksi 3 buah sepatu Nike original atas bantuan IBL yang didatangkan dari luar negeri.

“Sepatu ket yang dia pakai dan viral sekarang mengikuti casis itu juga yang biasa dipakai untuk latihan sebagai pemain Bola Voli Klub Rajawali Junior Lanud JA Dimara,” lugasnya.

Peltu Deni sempat menyemangati Filemon untuk mendaftar TNI AU kala itu, namun Filemon mengaku belum siap meskipun secara fisik dinilai sudah sangat siap.

Tak disangka, lulusan SD Salor Kampung, SMP Negeri 7 Salor dan SMA N 1 Kurik itu suatu saat meminta ijin kepada Peltu Deni sebagai ayah angkatnya bahwa ingin mengadu nasib di TNI AD dengan mendaftar Secata.

“Dia ijin mendaftar saat ada pembukaan Tamtama. Saya pun mengijinkan karena saya selalu memotivasi, tidak ingin ada unsur paksaan untuk pilihan anak-anak. Nyatanya anak Filemon, dia bangga bisa tercapai cita-citanya berkat niat dan berjuang dengan hati” tandas Peltu Deni Zulkarnaen. (Hidayatillah/Jharu)

___ ___

Komentar